Internet Beritaku

Sabtu, 01 September 2012

Makalah Global Warming

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
     Pemanasan global (global warming) pada dasarnya merupakan fenomena peningkatan temperatur global dari tahun ke tahun karena terjadinya efek rumah kaca (greenhouse effect) yang disebabkan oleh meningkatnya emisi gas-gas seperti karbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitrooksida (N2O) dan CFC sehingga energi matahari terperangkap dalam atmosfer bumi. Berbagai literatur menunjukkan kenaikan temperatur global – termasuk Indonesia – yang terjadi pada kisaran 1,5–40 Celcius pada akhir abad 21. Pemanasan global mengakibatkan dampak yang luas dan serius bagi lingkungan bio-geofisik (seperti pelelehan es di kutub, kenaikan muka air laut, perluasan gurun pasir, peningkatan hujan dan banjir, perubahan iklim, punahnya flora dan fauna tertentu, migrasi fauna dan hama penyakit, dsb). Sedangkan dampak bagi aktivitas sosial-ekonomi masyarakat meliputi :
a)    gangguan terhadap fungsi kawasan pesisir dan kota pantai,
b)    gangguan terhadap fungsi prasarana dan sarana seperti jaringan jalan, pelabuhan dan bandara
c)    gangguan terhadap permukiman penduduk,
d)    pengurangan produktivitas lahan pertanian,
e)    peningkatan resiko kanker dan wabah penyakit, dsb).
     Dalam makalah ini, fokus diberikan pada antisipasi terhadap dua dampak pemanasan global, yakni : kenaikan muka air laut (sea level rise) dan banjir. Penelitian yang telah dilakukan para ahli selama beberapa dekade terakhir ini menunjukkan bahwa ternyata makin panasnya planet bumi terkait langsung dengan gas-gas rumah kaca yang dihasilkan oleh aktifitas manusia. Khusus untuk mengawasi sebab dan dampak yang dihasilkan oleh pemanasan global, Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) membentuk sebuah kelompok peneliti yang disebut dengan International Panel on Climate Change (IPCC).
     Setiap beberapa tahun sekali, ribuan ahli dan peneliti-peneliti terbaik dunia yang tergabung dalam IPCC mengadakan pertemuan untuk mendiskusikan penemuan-penemuan terbaru yang berhubungan dengan pemanasan global, dan membuat kesimpulan dari laporan dan penemuan- penemuan baru yang berhasil dikumpulkan, kemudian membuat persetujuan untuk solusi dari masalah tersebut. Salah satu hal pertama yang mereka temukan adalah bahwa beberapa jenis gas rumah kaca bertanggung jawab langsung terhadap pemanasan yang kita alami, dan manusialah kontributor terbesar dari terciptanya gas-gas rumah kaca tersebut. Kebanyakan dari gas rumah kaca ini dihasilkan oleh peternakan, pembakaran bahan bakar fosil pada kendaraan bermotor, pabrik-pabrik modern, peternakan, serta pembangkit tenaga listrik.

1.2 Tujuan
     Makalah ini disusun dengan harapan dapat membukakan mata dan hati kita dalam menyikapi segala fenomena-fenomena alam yang telah terjadi disekitar kita. Membuat akan kita lebih peduli dengan lingkungan yang ada. Tidak merusaknya dan memeliharanya dengan baik. Karena dengan apa yang kita lakukan mungkin bisa mempunyai hal yang berdampak positif untuk kelestarian yang ada pada sekitar kita dan mengurangi kerusakan alam yang sering dilakukan oleh manusia itu sendiri

1.3 Rumusan Masalah
Makalah ini menjelaskan tentang pemanasan global (global warming). Antara lain apa yang menjadi penyebab terjadinya global warming , berbagai dampai yang ada oleh pemanasan global warming itu sendiri dan penjelasan apa saja yang bisa kita lakukan untuk mengantipasti hal tersebut agar tidak semakin menjadi kerusakan yang lebih parah lagi.

BAB II
PEMBAHASAN


2.1 Gas Rumah Kaca
     Atmosfer bumi terdiri dari bermacam-macam gas dengan fungsi yang berbeda-beda. Kelompok gas yang menjaga suhu permukaan bumi agar tetap hangat dikenal dengan istilah “gas rumah kaca”. Disebut gas rumah kaca karena sistem kerja gas-gas tersebut di atmosfer bumi mirip dengan cara kerja rumah kaca yang berfungsi menahan panas matahari di dalamnya agar suhu di dalam rumah kaca tetap hangat, dengan begitu tanaman di dalamnya pun akan dapat tumbuh dengan baik karena memiliki panas matahari yang cukup.
Planet kita pada dasarnya membutuhkan gas-gas tesebut untuk menjaga kehidupan di dalamnya. Tanpa keberadaan gas rumah kaca, bumi akan menjadi terlalu dingin untuk ditinggali karena tidak adanya lapisan yang mengisolasi panas matahari. Sebagai perbandingan, planet mars yang memiliki lapisan atmosfer tipis dan tidak memiliki efek rumah kaca memiliki temperatur rata-rata -32o Celcius. Kontributor terbesar pemanasan global saat ini adalah Karbon Dioksida (CO2), metana (CH4) yang dihasilkan agrikultur dan peternakan (terutama dari sistem pencernaan hewan-hewan ternak), Nitrogen Oksida (NO) dari pupuk, dan gas-gas yang digunakan untuk kulkas dan pendingin ruangan (CFC). Rusaknya hutan-hutan yang seharusnya berfungsi sebagai penyimpan CO2 juga makin memperparah keadaan ini karena pohon-pohon yang mati akan melepaskan CO2 yang tersimpan di dalam jaringannya ke atmosfer. Setiap gas rumah kaca memiliki efek pemanasan global yang berbedabeda.
Beberapa gas menghasilkan efek pemanasan lebih parah dari CO2. Sebagai contoh sebuah molekul metana menghasilkan efek pemanasan 23 kali dari molekul CO2. Molekul NO bahkan menghasilkan efek pemanasan sampai 300 kali dari molekul CO2. Gas-gas lain seperti chlorofluorocarbons (CFC) ada yang menghasilkan efek pemanasan hingga ribuan kali dari CO2. Tetapi untungnya pemakaian CFC telah dilarang di banyak negara karena CFC telah lama dituding sebagai penyebab rusaknya lapisan ozon.
2.2 Penyebab Utama Pemanasan Global
Efek-efek dari agen penyebab pemanasan global juga dipengaruhi oleh berbagai proses umpan balik yang dihasilkannya. Sebagai contoh adalah pada penguapan air. Pada kasus pemanasan akibat bertambahnya gas-gas rumah kaca seperti CO2, pemanasan pada awalnya akan menyebabkan lebih banyaknya air yang menguap ke atmosfer. Karena uap air sendiri merupakan gas rumah kaca, pemanasan akan terus berlanjut dan menambah jumlah uap air di udara hingga tercapainya suatu kesetimbangan konsentrasi uap air.
Efek rumah kaca yang dihasilkannya lebih besar bila dibandingkan oleh akibat gas CO2 sendiri. (Walaupun umpan balik ini meningkatkan kandungan air absolut di udara, kelembaban relatif udara hampir konstan atau bahkan agak menurun karena udara menjadi menghangat). Umpan balik ini hanya dapat dibalikkan secara perlahan-lahan karena CO2 memiliki usia yang panjang di atmosfer Efek-efek umpan balik karena pengaruh awan sedang menjadi objek penelitian saat ini. Bila dilihat dari bawah, awan akan memantulkan radiasi infra merah balik ke permukaan, sehingga akan meningkatkan efek pemanasan. Sebaliknya bila dilihat dari atas, awan tersebut akan memantulkan sinar Matahari dan radiasi infra merah ke angkasa, sehingga meningkatkan efek pendinginan. Apakah efek netto-nya pemanasan atau pendinginan tergantung pada beberapa detail-detail tertentu seperti tipe dan ketinggian awan tersebut. Detail-detail ini sulit direpresentasikan dalam model iklim, antara lain karena awan sangat kecil bila dibandingkan dengan jarak antara batas-batas komputasional dalam model iklim (sekitar 125 hingga 500 km untuk model yang digunakan dalam Laporan Pandangan IPCC ke Empat). Walaupun demikian, umpan balik awan berada pada peringkat dua bila dibandingkan dengan umpan balik uap air dan dianggap positif (menambah pemanasan) dalam semua model yang digunakan dalam Laporan Pandangan IPCC ke Empat.
Umpan balik penting lainnya adalah hilangnya kemampuan memantulkan cahaya oleh es. Ketika temperatur global meningkat, es yang berada di dekat kutub mencair dengan kecepatan yang terus meningkat. Bersama dengan melelehnya es tersebut, daratan atau air dibawahnya akan terbuka. Baik daratan maupun air memiliki kemampuan memantulkan cahaya lebih sedikit bila dibandingkan dengan es, dan akibatnya akan menyerap lebih banyak radiasi Matahari. Hal ini akan menambah pemanasan dan menimbulkan lebih banyak lagi es yang mencair, menjadi suatu siklus yang berkelanjutan. Umpan balik positif akibat terlepasnya CO2 dan CH4 dari melunaknya tanah beku (permafrost) adalah mekanisme lainnya yang berkontribusi terhadap pemanasan. Selain itu, es yang meleleh juga akan melepas CH4 yang juga menimbulkan umpan balik positif. Kemampuan lautan untuk menyerap karbon juga akan berkurang bila ia menghangat, hal ini diakibatkan oleh menurunya tingkat nutrien pada zona mesopelagic sehingga membatasi pertumbuhan diatom daripada fitoplankton yang merupakan penyerap karbon yang rendah. Pada awal 1896, para ilmuan beranggapan bahwa membakar bahan bakar fosil akan mengubah komposisi atmosfer dan dapat meningkatkan temperatur rata-rata global.
Hipotesis ini dikonfirmasi tahun 1957 ketika para peneliti yang bekerja pada program penelitian global yaitu International Geophysical Year, mengambil sampel atmosfer dari puncak gunung Mauna Loa di Hawai. Hasil pengukurannya menunjukkan terjadi peningkatan konsentrasi karbondioksida di atmosfer. Setelah itu, komposisi dari atmosfer terus diukur dengan cermat. Data-data yang dikumpulkan menunjukkan bahwa memang terjadi peningkatan konsentrasi dari gas-gas rumah kaca di atmosfer. Para ilmuan juga telah lama menduga bahwa iklim global semakin menghangat, tetapi mereka tidak mampu memberikan bukti-bukti yang tepat. Temperatur terus bervariasi dari waktu ke waktu dan dari lokasi yang satu ke lokasi lainnya. Perlu bertahun-tahun pengamatan iklim untuk memperoleh data-data yang menunjukkan suatu kecenderungan (trend) yang jelas. Catatan pada akhir 1980-an agak memperlihatkan kecenderungan penghangatan ini, akan tetapi data statistik ini hanya sedikit dan tidak dapat dipercaya. Stasiun cuaca pada awalnya, terletak dekat dengan daerah perkotaan sehingga pengukuran temperatur akan dipengaruhi oleh panas yang dipancarkan oleh bangunan dan kendaraan dan juga panas yang disimpan oleh material bangunan dan jalan. Sejak 1957, data-data diperoleh dari stasiun cuaca yang terpercaya (terletak jauh dari perkotaan), serta dari satelit. Data-data ini memberikan pengukuran yang lebih akurat, terutama pada 70 persen permukaan planet yang tertutup lautan.
Data-data yang lebih akurat ini menunjukkan bahwa kecenderungan menghangatnya permukaan Bumi benar-benar terjadi. Jika dilihat pada akhir abad ke-20, tercatat bahwa sepuluh tahun terhangat selama seratus tahun terakhir terjadi setelah tahun 1980, dan tiga tahun terpanas terjadi setelah tahun 1990, dengan 1998 menjadi yang paling panas. Terdapat hipotesa yang menyatakan bahwa variasi dari Matahari, dengan kemungkinan diperkuat oleh umpan balik dari awan, dapat memberi kontribusi dalam pemanasan saat ini. Perbedaan antara mekanisme ini dengan pemanasan akibat efek rumah kaca adalah meningkatnya aktivitas Matahari akan memanaskan stratosfer sebaliknya efek rumah kaca akan mendinginkan stratosfer.
Pendinginan stratosfer bagian bawah paling tidak telah diamati sejak tahun 1960, yang tidak akan terjadi bila aktivitas Matahari menjadi kontributor utama pemanasan saat ini. (Penipisan lapisan ozon juga dapat memberikan efek pendinginan tersebut tetapi penipisan tersebut terjadi mulai akhir tahun 1970-an.) Fenomena variasi Matahari dikombinasikan dengan aktivitas gunung berapi mungkin telah memberikan efek pemanasan dari masa pra-industri hingga tahun 1950, serta efek pendinginan sejak tahun 1950. Ada beberapa hasil penelitian yang menyatakan bahwa kontribusi Matahari mungkin telah diabaikan dalam pemanasan global. Dua ilmuan dari Duke University mengestimasikan bahwa Matahari mungkin telah berkontribusi terhadap 45-50% peningkatan temperatur rata-rata global selama periode 1900-2000, dan sekitar 25-35% antara tahun 1980 dan 2000. Stott dan rekannya mengemukakan bahwa model iklim yang dijadikan pedoman saat ini membuat estimasi berlebihan terhadap efek gas-gas rumah kaca dibandingkan dengan pengaruh Matahari; mereka juga mengemukakan bahwa efek pendinginan dari debu vulkanik dan aerosol sulfat juga telah dipandang remeh.
Walaupun demikian, mereka menyimpulkan bahwa bahkan dengan meningkatkan sensitivitas iklim terhadap pengaruh Matahari sekalipun, sebagian besar pemanasan yang terjadi pada dekade-dekade terakhir ini disebabkan oleh gas-gas rumah kaca. Pada tahun 2006, sebuah tim ilmuan dari Amerika Serikat, Jerman dan Swiss menyatakan bahwa mereka tidak menemukan adanya peningkatan tingkat "keterangan" dari Matahari pada seribu tahun terakhir ini. Siklus Matahari hanya memberi peningkatan kecil sekitar 0,07% dalam tingkat "keterangannya" selama 30 tahun terakhir. Efek ini terlalu kecil untuk berkontribusi terhadap pemansan global. Sebuah penelitian oleh Lockwood dan Fröhlich menemukan bahwa tidak ada hubungan antara pemanasan global dengan variasi Matahari sejak tahun 1985, baik melalui variasi dari output Matahari maupun variasi dalam sinar kosmis. Dalam laporan PBB (FAO) yang berjudul Livestock's Long Shadow: Enviromental Issues and Options (Dirilis bulan November 2006), PBB mencatat bahwa industri peternakan adalah penghasil emisi gas rumah kaca yang terbesar (18%), jumlah ini lebih banyak dari gabungan emisi gas rumah kaca seluruh transportasi di seluruh dunia (13%).
Emisi gas rumah kaca industri peternakan meliputi 9 % karbon dioksida, 37% gas metana (efek pemanasannya 72 kali lebih kuat dari CO2), 65 % nitro oksida (efek pemanasan 296 kali lebih kuat dari CO2), serta 64% amonia penyebab hujan asam. Peternakan menyita 30% dari seluruh permukaan tanah kering di Bumi dan 33% dari area tanah yang subur dijadikan ladang untuk menanam pakan ternak.
Peternakan juga penyebab dari 80% penggundulan Hutan Amazon. Sedangkan laporan yang baru saja dirilis World Watch Institut menyatakan bahwa peternakan bertanggung jawab atas sedikitnya 51 persen dari pemanasan global. Penulisnya, Dr. Robert Goodland, mantan penasihat utama bidang lingkungan untuk Bank Dunia, dan staf riset Bank Dunia Jeff Anhang, membuatnya berdasarkan “Bayangan Panjang Peternakan”, laporan yang diterbitkan pada tahun 2006 oleh Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO). Mereka menghitung bidang yang sebelumnya dan memperbarui hal lainnya, termasuk siklus hidup emisi produksi ikan yang diternakkan, CO2 dari pernapasan hewan, dan koreksi perhitungan sebenarnya yang menghasilkan lebih dari dua kali lipat jumlah hewan ternak yang dilaporkan di planet ini. Emisi metana dari hewan ternak juga berperan sebesar 72 kali lebih dalam menyerap panas di atmosfer daripada CO2.
Hal ini mewakili kenaikan yang lebih akurat dari perhitungan asli FAO dengan potensi pemanasan sebesar 23 kali. Meskipun demikian, para peneliti itu memberitahu bahwa perkiraan mereka adalah minimal, dan karena itu total emisi 51 persen masih konservatif.

2.3 Dampak Global Warming
     Pemanasan global mengakibatkan dampak yang luas dan serius bagi lingkungan bio-geofisik (seperti pelelehan es di kutub, kenaikan muka air laut, perluasan gurun pasir, peningkatan hujan dan banjir, perubahan iklim, punahnya flora dan fauna tertentu, migrasi fauna dan hama penyakit, dsb). Sedangkan dampak bagi aktivitas sosial-ekonomi masyarakat meliputi : a) gangguan terhadap fungsi kawasan pesisir dan kota pantai b) gangguan terhadap fungsi prasarana dan sarana seperti jaringan jalan, pelabuhan dan bandara c) gangguan terhadap permukiman penduduk d) pengurangan produktivitas lahan pertanian e) peningkatan resiko kanker dan wabah penyakit, dsb).
     Para ilmuan memperkirakan bahwa selama pemanasan global, daerah bagian Utara dari belahan Bumi Utara (Northern Hemisphere) akan memanas lebih dari daerah-daerah lain di Bumi. Akibatnya, gunung-gunung es akan mencair dan daratan akan mengecil. Akan lebih sedikit es yang terapung di perairan Utara tersebut. Daerah-daerah yang sebelumnya mengalami salju ringan, mungkin tidak akan mengalaminya lagi. Pada pegunungan di daerah subtropis, bagian yang ditutupi salju akan semakin sedikit serta akan lebih cepat mencair. Musim tanam akan lebih panjang di beberapa area. Temperatur pada musim dingin dan malam hari akan cenderung untuk meningkat. Kelembaban yang tinggi akan meningkatkan curah hujan, secara rata-rata, sekitar 1 % untuk setiap derajat Fahrenheit pemanasan. (Curah hujan di seluruh dunia telah meningkat sebesar 1 persen dalam seratus tahun terakhir ini). Badai akan menjadi lebih sering.
     Selain itu, air akan lebih cepat menguap dari tanah. Akibatnya beberapa daerah akan menjadi lebih kering dari sebelumnya. Angin akan bertiup lebih kencang dan mungkin dengan pola yang berbeda. Topan badai (hurricane) yang memperoleh kekuatannya dari penguapan air, akan menjadi lebih besar. Berlawanan dengan pemanasan yang terjadi, beberapa periode yang sangat dingin mungkin akan terjadi. Pola cuaca menjadi tidak terprediksi dan lebih ekstrim.menurunkan pemanasan yang lebih jauh lagi. Hal ini disebabkan karena uap air merupakan gas rumah kaca, sehingga keberadaannya akan meningkatkan efek insulasi pada atmosfer. Akan tetapi, uap air yang lebih banyak juga akan membentuk awan yang lebih banyak, sehingga akan memantulkan cahaya matahari kembali ke angkasa luar, di mana hal ini akan menurunkan proses pemanasan.
     Perubahan tinggi rata-rata muka laut diukur dari daerah dengan lingkungan yang stabil secara geologi. Ketika atmosfer menghangat, lapisan permukaan lautan juga akan menghangat, sehingga volumenya akan membesar dan menaikkan tinggi permukaan laut. Pemanasan juga akan mencairkan banyak es di kutub, terutama sekitar Greenland, yang lebih memperbanyak volume air di laut. Tinggi muka laut di seluruh dunia telah meningkat 10-25 cm (4 - 10 inchi) selama abad ke-20, dan para ilmuan IPCC memprediksi peningkatan lebih lanjut 9 - 88 cm (4 - 35 inchi) pada abad ke-21. Perubahan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi kehidupan di daerah pantai. Kenaikan 100 cm (40 inchi) akan menenggelamkan 6 persen daerah Belanda, 17,5% daerah Bangladesh, dan banyak pulau-pulau. Erosi dari tebing, pantai, dan bukit pasir akan meningkat. Ketika tinggi lautan mencapai muara sungai, banjir akibat air pasang akan meningkat di daratan. Negara-negara kaya akan menghabiskan dana yang sangat besar untuk melindungi daerah pantainya, sedangkan negara-negara miskin mungkin hanya dapat melakukan evakuasi dari daerah pantai.
Orang mungkin beranggapan bahwa Bumi yang hangat akan menghasilkan lebih banyak makanan dari sebelumnya, tetapi hal ini sebenarnya tidak sama di beberapa tempat. Bagian Selatan Kanada, sebagai contoh, mungkin akan mendapat keuntungan dari lebih tingginya curah hujan dan lebih lamanya masa tanam. Di lain pihak, lahan pertanian tropis semi kering di beberapa bagian Afrika mungkin tidak dapat tumbuh. Daerah pertanian gurun yang menggunakan air irigasi dari gunung-gunung yang jauh dapat menderita jika snowpack (kumpulan salju) musim dingin, yang berfungsi sebagai reservoir alami, akan mencair sebelum puncak bulan-bulan masa tanam. Tanaman pangan dan hutan dapat mengalami serangan serangga dan penyakit yang lebih hebat.
Hewan dan tumbuhan menjadi makhluk hidup yang sulit menghindar dari efek pemanasan ini karena sebagian besar lahan telah dikuasai manusia. Dalam pemanasan global, hewan cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub atau ke atas pegunungan. Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya, mencari daerah baru karena habitat lamanya menjadi terlalu hangat. Akan tetapi, pembangunan manusia akan menghalangi perpindahan ini. Spesies-spesies yang bermigrasi ke utara atau selatan yang terhalangi oleh kota-kota atau lahan-lahan pertanian mungkin akan mati. Beberapa tipe spesies yang tidak mampu secara cepat berpindah menuju kutub mungkin juga akan musnah. Beberapa spesies sangat sulit untuk dapat bertahan di habitatnya sekarang. Beberapa tanaman bunga tidak dapat berbunga tanpa mengalami musim dingin yang benar-benar dingin. Dan kegiatan manusia telah mempersulit tumbuhan dan binatang untuk mencapai habitat barunya bahkan tidak memungkinkan bagi tumbuhan dan binatang untuk mencari habitat baru.
Di dunia yang hangat, para ilmuan memprediksi bahwa lebih banyak orang yang terkena penyakit atau meninggal karena stress panas. Wabah penyakit yang biasa ditemukan di daerah tropis, seperti penyakit yang diakibatkan nyamuk dan hewan pembawa penyakit lainnya, akan semakin meluas karena mereka dapat berpindah ke daerah yang sebelumnya terlalu dingin bagi mereka. Saat ini, 45 persen penduduk dunia tinggal di daerah di mana mereka dapat tergigit oleh nyamuk pembawa parasit malaria; persentase itu akan meningkat menjadi 60 persen jika temperature meningkat. Penyakit-penyakit tropis lainnya juga dapat menyebar seperti malaria, seperti demam dengue, demam kuning, dan encephalitis. Para ilmuan juga memprediksi meningkatnya insiden alergi dan penyakit pernafasan karena udara yang lebih hangat akan memperbanyak polutan, spora mold dan serbuk sari. Penderita kanker kulit juga meningkat. Gelombang panas yang terus menerus dapat menyebabkan penyakit dan kematian. Banjir dan kekeringan meningkatkan kelaparan dan kekurang gizi. Banyak sekali orang yang menganggap, banjir besar yang terjadi pada Februari 2007 yang merendam lebih dari separuh DKI Jakarta adalah akibat dari pemanasan global saja. Padahal 35% rusaknya hutan kota dan hutan di kawasan puncak adalah penyebab makin panasnya udara di Jakarta. Itulah sebabnya, kerusakan hutan di Indonesia bukan hanya menjadi masalah warga Indonesia melainkan juga seluruh warga dunia. Sebagai kota yang terletak di pinggir pantai, Jakarta sangat rentan terkena dampak perubahan iklim. Ironisnya, perencanaan tata ruang Jakarta dari tahun ke tahun justru semakin tidak ramah lingkungan. Lihat saja saat ini di Jakarta setiap hari lalu lalang sekitar 7,5 juta unit kendaraan, yang semuanya mengeluarkan gas karbon yang mencemarkan udara dan berkontribusi memanaskan bumi.
Di sisi lain, dari waktu ke waktu luas Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang berkontribusi menyerap karbon semakin berkurang akibat pembangunan. Daerah resapan air juga mengalami hal yang sama, hilang dan diganti dengan perumahan, apartemen, dan gedung-gedung megah. Sebagai warga kota, kita tentu tidak mau Jakarta 40 tahun lagi adalah kota tanpa Ancol, Cilincing, Muara Angke, dan Kepulauan Seribu. Kita juga tidak mau, Indonesia di akhir abad ini adalah Indonesia tanpa Jakarta seperti skenario yang diprediksi para ahli internasional. Di Amerika Serikat, seperti diberitakan Newsweek (edisi 16-23 April 2007), sebagian besar warganya yakni 83 persen menganggap pemanasan global dan perubahan iklim adalah persoalan yang sangat serius. Sebanyak 63 persen warga AS menilai negara mereka sedang dalam bahaya lingkungan dan sudah menyamakan dengan bahaya teroris. Jika AS saja yang memiliki hampir semua sumber daya untuk menghadapi perubahan iklim sudah menyadari dan melakukan upaya-upaya adaptasi dan mitigasi, Indonesia khususnya Jakarta yang justru memiliki keterbatasan baik dana maupun sumber daya manusia harusnya menyadari dan melakukan upaya lebih dini untuk mencegah dan menanggulangi dampak perubahan iklim. Saat dunia sedang sibuk menghujat negara - negara maju yang industrinya mempunyai kontribusi yang besar bagi kerusakan lingkungan, sedangkan di Indonesia sendiri kerusakan hutan sudah sangat - sangat parah. Bahkan Indonesia mempunyai ‘prestasi’: Indonesia menghancurkan kira-kira 51 kilometer persegi hutan setiap harinya, setara dengan luas 300 lapangan bola setiap jam, sebuah angka yang menurut Greenpeace layak menempatkan Indonesia di dalam the Guinness Book of World Records sebagai negara penghancur hutan tercepat di dunia. Angka tersebut diperoleh dari kalkulasi berdasarkan data laporan ‘State of the World’s Forests 2007’ yang dikeluarkan the UN Food & Agriculture Organization’s (FAO).
Menurut laporan tersebut sepuluh negara membentuk 80 persen hutan primer dunia, dimana Indonesia, Meksiko, Papua Nugini dan Brasil mengalami kerusakan hutan terparah sepanjang kurun waktu 2000 hingga 2005. “Tingkat penghancuran hutan yang luar biasa ini membuat Indonesia layak untukmasuk ke dalam the Guinness book of World Records bergabung dengan Brasil yang saat ini memegang rekor kawasan deforestasi terluas di dunia,” ungkapHapsoro, Juru Kampanye Hutan Regional, Greenpeace Asia Tenggara. “Angka terbaru ini mencerminkan tidak adanya keinginan maupun kemampuan politis dari pemerintah Indonesia untuk menghentikan kehancuran hutan yang sudah sangat parah ini. Serangkaian bencana alam yang terjadi beberapa tahun terakhir ini seperti banjir, kebakaran hutan, longsor, kekeringan, erosi besar-besaran semuanya berhubungan dengan parahnya keadaan hutan kita. Kebakaran hutan yang disebabkan oleh konsesi dan perkebunan telah menobatkan Indonesia sebagai negara pengemisi gas rumah kaca terbesar ketiga di dunia,” Indonesia pantas malu karena telah menjadi negara terbesar ke-3 di dunia sebagai penyumbang gas rumah kaca dari kebakaran hutan dan pembakaran lahan gambut yang diubah menjadi pemukiman atau hutan industri Jika kita tidak bisa menyelamatkan hutan mulai dari sekarang, diperkirakan 5 tahun lagi hutan di Sumatera akan habis, 10 tahun lagi hutan Kalimantan yang habis, dan 15 tahun lagi seluruh hutan di Indonesia tidak akan tersisa dan disaat itulah kita semua tidak bisa lagi menghirup udara bersih.

BAB III
PENUTUP


3.1 Kesimpulan
     Global warming adalah adanya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan bumi. Sebagian dari panas ini sebagai radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar. Namun sebagian panas tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air, karbondioksida (CO2), metana (CH4), dan clorofluorocarbon (CFC) yang menjadi perangkap gelombang radiasi ini.
     Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi. Hal tersebut terjadi berulang-ulang dan mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat. Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrim cuaca, tinggi permukaan air laut, hilangnya pantai, dll. Cara membatasi global warming adalah dengan membatasi emisi CO2 dan menanam pohon sebanyak mungkin yang berfungsi menekan tingginya peningkatan CO2. Pemanasan global telah menjadi permasalahan yang menjadi sorotan utama umat manusia. Fenomena ini bukan lain diakibatkan oleh perbuatan manusia sendiri dan dampaknya diderita oleh manusia itu juga. Untuk mengatasi pemanasan global diperlukan usaha yang sangat keras karena hampir mustahil untuk diselesaikan saat ini

3.2 Saran
     Kehidupan ini berawal dari kehidupan di bumi jauh sebelum makhluk hidup ada. Maka dari itu untuk menjaga dan melestarikan bumi ini harus beberapa dekade kah kita memikirkannya. Sampai pada satu sisi dimana bumi ini telah tua dan memohon agar kita menjaga serta melstarikannya. Marilah kita bergotong royang untuk menyelematkan bumi yang telah memberikan kita kehidupan yang sempurna ini. Stop global warming.

REFERENSI

http://makalahdanskripsi.blogspot.com/2009/06/pemanasan-global-global-warming.html
http://akyura-kun.blogspot.com/2010/10/makalah-global-warming.html
http://www.scribd.com/appror/d/47013821-Makalah-Global-Warming
http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global

Makalah Abrasi Kornea

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
     Abrasio kornea umumnya akibat dari trauma pada permukaan mata. Penyebab umum termasuk menusukkan jari ke mata, berjalan ke sebuah cabang pohon, mendapatkan pasir di mata dan kemudian menggosok mata atau dipukul dengan sepotong logam proyektil. Sebuah benda asing di mata juga dapat menyebabkan goresan jika mata digosok. Cedera juga dapat dikeluarkan oleh "keras" lensa kontak yang telah ditinggalkan di terlalu lama. Kerusakan bisa terjadi jika lensa dihapus, bukan ketika lensa masih dalam kontak dengan mata. Selain itu, jika kornea menjadi sangat kering, mungkin menjadi lebih rapuh dan mudah rusak oleh gerakan di seluruh permukaan.
    
B.    Tujuan
-    Mengetahui definisi dari Abrasi Kornea itu sendiri
-    Mengenal penyebab terjadinya Abrasi Kornea
-    Mengetau cara pengomatan yang dilakukan jika Abrasi Kornea terjadi

BAB II
PEMBAHASAN


A.    Definisi
    Trauma tumpul kornea dapat menimbulkan kelainan kornea mulai dari erosi kornea sampai laserasi kornea. Bilamana lesi terletak dibagian sentral, lebih-lebih bila mengakibatkan pengurangan ketajaman penglihatan. Benda asing dan abrasi di kornea menyebabkan nteri dan iritasi yang dapat dirasakan sewaktu mata dan kelopak digerakkan. Pada trauma tumpul mata, kornea diperiksa untuk mencari apakah terdapat kehilangan lapisan epitel (abrasi), laserasi dan benda asing. Abrasi kornea merupakan terkikisnya lapisan kornea (epitel) oleh karena trauma pada bagian superfisial mata. Abrasi kornea umumnya sembuh dengan cepat dan harus diterapi dengan salep antibiotik dan pelindung mata.
Ada 2 kategori pada abrasi kornea yaitu abrasi superfisial, hanya sebatas lapisan epitel saja dan arbrasi profunda, abrasi yang terjadi hingga pada membran descemen tanpa disertai ruptur pada membran tersebut. Abrasi dapat diakibatkan oleh karena benda asing, lensa kontak, pengusap pipi untuk make-up, ranting kayu dan tertusuknya mata oleh jari.

B. Anatomi
    Dinding bola mata bagian depan ialah kornea yang merupakan jaringan yang jernih dan bening, bentuknya dan bening, bentuknya hampir sebagai lingkaran dan sedikit lebih lebar pada arah transversal (12mm) dibanding arah vertikal. Kornea disisipkan ke sklera di limbus. Kornea dewasa rata-rata mempunyai ketebalan 0,54mm di tengah, sekitar 0,65 mm di tepi dan diameternya sekitar 11,5 mm. Dari anterior ke posterior, kornea mempunyai 5 lapisan yang berbeda-beda.Dimulai dari lapisan epitel, membran Bowman, stroma, membran descemen dan lapisan endotel.

C. Diagnosis
    Pada abrasi kornea, diagnosa dapat ditegakkan dengan melakukan anamnesis dan pemeriksaan oftamologi yang tepat. Pada anamnesis yang didapatkan adanya riwayat trauma tumpul dengan gejala-gejala seperti rasa nyeri pada mata, fotopobia, rasa mengganjal, blefarospasme, pengeluaran air mata berlebihan dan visus yang menurun. Pada pemeriksaan slit lamp adanya defek yang terjadi pada lapisan epitel bersamaan dengan adanya edema kornea. Pada kasus berat, dengan edema yang berat harus diperhatikan pada lapisan membran descemen juga. Dengan tes fluoresensi, daerah defek/abrasi dapat dilihat pada daerah yang berwarna hijau. Misalnya pada gambar berikut :

Tampak lima lapisan kornea

D. Penatalaksanaan
    Abrasi kornea umumnya sembuh dengan cepat dan harus diterapi dengan salep antibiotik dan pelindung mata. Dilatasi pupil dengan siklopentolat 1% dapat membantu menghilangkan nteri yang disebabkan oleh spasme otot siliar. Kornea memiliki kemampuan untuk menyembuhkan diri sendiri, dimana pengobatan bertujuan untuk mencegah komplikasi lebih lanjut. Jika abrasi yang terjadi ringan, maka terapi yang diberikan hanyalah lumbrikasi pada mata yang sakit dan kemudian dilakukan follow-up untuk hari berikutnya. Penyembuhan ini dapat berlangsung selama 2 hari ataupun dalam waktu seminggu. Bagaimanapun untuk menghindari infeksi, pemberian antibiotik dianjurkan. Namun tak lepas dari pengobatan, seorang dokter harus tetap melakukan follow up utnuk meyakinkan bahwa tidak terjdi inefeksi nantinya.
    Sebagai langkah awal, diberikan pengobatan yang berisifat siklopegi seperti atropine 1% pada kasus yang berat, hematropine 5% pada kasus sedang dan cyclopentolate 1% untuk pasien dengan abrasi yang ringan. Anjuran selanjutnya yaitu pada obat topical antibiotic yang terdiri dari polytrim, gentamycin dan tombramycin. Selain itu, pasien dianjurkan untuk istirahat total (bed-rest) diharapkan tidak adanya pergerakkan pasien secara aktif. Apabila pasien merasa nyeri, diberikan pengobatan topical nonsteroid anti inflamasi (Voltaren, Acular atau Ocufen).

E. Komplikasi
Komplikasi yang terjadi apabila penyembuhan epitel tidak terjadi secara baik atau minimal sehingga kerusakan lapisan kornea bisa terjadi hingga pada daerah membrane descemen. Dengan keadaan seperti itu, maka akan terjadi pelepasan pada lapisan kornea hingga terjadi Recurrent Corneal Erosions (RCE) dalam beberapa bulan  atau hingga beberapa tahun.

F. Prognosis
Pada pengobatan topical umumnya dengan prognosis yang baik. Penyembuhan pada lapisan kornea ini dapat terjadi dalam beberapa hari. Pada abrasi yang terjadi agak dalam dapat terjadi penyembuhan dengan jaringan sikatriks berupa nebula, makula ataupun leukoma kornea.
Meskipun abrasio kecil mungkin tidak memerlukan pengobatan khusus, abrasio yang lebih besar biasanya diobati selama beberapa hari dengan antibiotik topikal untuk mencegah infeksi dan kadang-kadang cycloplegic topikal untuk mengurangi nyeri dan meningkatkan kenyamanan. Sebuah studi besar tunggal oleh John W Raja, et al;. Menunjukkan bahwa hanya 0,7% dari abrasio kornea benar-benar menjadi terinfeksi tanpa tetes antibiotik, mempertanyakan perlunya praktik seperti cycloplegic juga dapat mengurangi peradangan sekunder iris dikenal. sebagai suatu iritis [kutipan diperlukan]. Sebuah tinjauan 2000 namun tidak menemukan bukti yang baik untuk mendukung penggunaan cycloplegics / mydriatics .Hal ini sering percaya bahwa mata bantalan digunakan dalam "patch tekanan" dapat meningkatkan kenyamanan dan meningkatkan penyembuhan dengan mencegah berulang. kelopak mata berkedip yang dapat menyebabkan distruption fisik lebih lanjut ke kornea. studi Terkendali memiliki namun tidak didukung pernyataan ini.

BAB III
KESIMPULAN


     Sebuah abrasi kornea adalah awal atau dipotong (abrasi) dari lapisan luar yang jelas (kornea) mata.  Cedera (trauma) adalah penyebab paling umum untuk abrasio kornea.
  •     Penyebab trauma yang paling umum adalah:
-    Goresan dari kuku (manusia dan hewan).
-    Memukul benda asing kornea (misalnya, kotoran, serpihan kayu, serutan logam, tanaman, cabang pohon, dll).
-    Curling besi.
-    Berlebihan menggosok mata.
-    Overexposure sinar ultraviolet.
-    Arc pengelasan paparan cahaya.
-    Lebih dari pemakaian lensa kontak.
-    III-pas lensa kontak.
-    Lensa kontak Tom.
-    Kuas Makeup.
-    Kertas pemotongan.
-    Kimia luka bakar.
-    Bulu mata teratur menggosok kornea atau jatuh ke dalam mata.
-    Sebuah benda asing yang tertangkap di bawah kelopak mata, yang kemudian mengganggu kornea setiap kali Anda berkedip.
  •    Penyebab lainnya adalah kondisi mata yang mendasari, seperti:
-    Ketidakmampuan untuk sepenuhnya menutup kelopak mata.
-    Kelainan posisi tutup.
-    Parah kondisi mata kering.
-    Parah blepharitis, kronis (kelopak mata meradang).


DAFTAR PUSTAKA

Ilyas, Sidarta., Trauma Mata : Ilmu Penyakit Mata edisi ketiga. FK-UI, Jakarta, 2004. Hal : 259,264-5.
James, Bruce., Trauma : Oftamologi edisi kesembilan. Erlangga, Jakarta, 2006. Hal : 177,181,182,184.
Ilyas, Sidarta., Trauma Tumpul Mata : Ilmu Penyakit Mata. Sagung Seto, Jakarta, 2002. Hal : 263-6.
Vaughan, Daniel,G., Trauma : Oftamologi Umum edisi ke-14. Widya Medika, Jakarta, 2000. Hal: 380,384.
Batterburry, Mark., Trauma : Ophthalmology. Elsevier, London, 2007. Hal : 76,78.
Webb, Lennox.A., Trauma : Manual of Eye Emergencies. Butterworth Heinemann,  London, 2004. Hal : 114-6, 123-4.

Makalah Landasan Sejarah Pendidikan

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Istilah sejarah, jika dirujuk dari dua istilah lain adalah tarikh dan history. Dalam bahasa Arab pengertian sejarah dapat dirujuk dari makna istilah tarikh yaitu “keterangan yang terjadi pada masa lampau atau masa yang masih ada (H. Munawar Cholil, 1969:15) Dalarn bahasa Inggris, sejarah atau tarikh disebut history, secara umum berarti “pengalaman masa silam manusia”. Dari pengertian-pengertian tersebut, sejarah terkait dengan masa silam pengalaman manusia dalam berbagai segi Kehidupan, seperti ekonomi, sosial, poitik dan pendidikan. Dengan demikian sejarah selain memusatkan pada masa silam pengalaman manusia, juga pada masa kini pengalaman manusia. Dengan perkataan lain, sejarah mencoba memahami perkembangan pengalaman manusia dari dulu sampai sekarang.
Dari penjelasan-penjelasan tersebut di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pengertian sejarah pendidikan ialah uraian yang sistimatis dari pada segala sesuatu yang telah difikirkan dan dikerjakan dalam lapangan pendidikan pada waktu yang telah lampau. Sejarah pendidikan menguraikan perkembangan pendidikan dari dahulu hingga sekarang.
Sejarah pendidikan merupakan bagian dari pada sejarah kebudayaan umat¬ manusia, karena mendidik itu berarti pula suatu usaha untuk menyerahkan alau mewariskan kebudayaan. Dalam hubungan ini pendidikan berarti; pemindahan isi kebudayaan untuk menyempurnakan segala kecakapan anak didik guna mcnghadapi persoalan-persoalan dan harapan-harapan kebudayaannya
Tentu saja tidak semua isi kehudayaan akan kita wariskan kepada generasi muda, kepada anak-anak kita. Yang akan kita serahkan atau kita wariskan hanyalah isi-isi kebudayaan yang sesuai dengan keadaan zaman, tempat dan yang memenuhi hasrat-hasrat manusia pada zaman itu.
Untuk memajukan pendidikan suatu bangsa maka kita perlu mempelajari sejarah pendidikan itu sendiri, baik yang bersifat nasional maupun internasional. Karena dengan mernpelajari sejarah pendidikan maka kita dapat mengetahui apa yang sudah dikerjakan oleh pendahulu kita serta hasil yang diperoleh.

B.    Pembatasan Masalah
Mengingat sejarah pendidikan itu amat luas, maka penulis perlu membatasi permasalahan yang akan dipaparkan yaitu sejarah pendidikan di Indonesia.

C.    Perumusan Masalah
Bagaimanakah pendidikan di Indonesia diselenggarakan pada masa lalu.

D.    Tujuan Penulisan

1.    Untuk mempelajari pendidikan di masa lalu
2.    Untuk memenuhi tugas mata kuliah Landasan Pendidikan

BAB II
PEMBAHASAN


A.    ZAMAN PURBA
Sebelum nenek moyang kita yang berasal dari daerah Yunan  (Tiongkok) menetap di Indonesia, disini sudah ada kebudayaan yakni kebudayaan penduduk asli, yang disebut kebudayaan palaeolitis (palaeos = lama, tua), seperti yang dijumpai pada orang-orang kubu, Wedda dan  Negrito (hal ini tidak banyak diketahui orang). Kebudayaan Indonesia asli mungkin merupakan campuran antara kebudayaan Melayu dan kebudayaan Palaeolitis.
Kebudayaan Indonesia asli (kebudayaan nenek moyang kita ± 1500 sebelum, Masehi) disebut kebudayaan Neolitis (Neos = baru ). Sisanya masih kita  jumpai di pedalaman Kalimantan dan Sulawesi.
Ciri-cirinya :
1.    Kebudayaan ini sebenarnya termasuk kebudayaan maritime
2.    Kepercayaannya.
a.  Animisme
 Yaitu kepercayaan akan kesaktian roh nenek moyang
b.  Dynamisme
Yaitu kepercayaan akan adanya " mana " (tenaga-tenaga gaib) pada manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, benda-benda dsbnya.
3.    Keadaan masyarakatnya
Keadaan masyarakatnya pada zaman itu adalah masyarakat gotong royong, karena di dalamnya belum terdapat perbedaan-perbedaan kelas. Pimpinan masyarakat pada masa itu disebut Ketua Adat
4.    Keadaan Pendidikannya
Pada zaman ini belum ada pendidikan secara formal. Pendidikan pada masa itu dilaksanakan hanya dalam lingkungan keluarga (dianggap sudah memenuhi kebutuhan). Yang menjadi pendidik terutama sekali ayah dan ibu. Ayah mengajarkan pengetahuan dan kepandaian yang ada padanya, kepada anak laki-laki dan ibupun berbuat demikian pula kepada anak perempuannya.
Pada waktu itu ada dua golongan manusia yang mempunyai kecakapan istimewa, yaitu pandai besi dan dukun, mereka itu begelar Empu.. pandai besii adalah seorang akhli dalam pengetahuan dunia, sedangkan dukun adalah akhli dalam pengetahuan maknawiah. Para Empu itu dapat pula disebut Guru, karena merekalah yang menjadi guru. Umumnya yang berguru padanya sangat terbatas, terutama anak-anaknya sendiri.
5.    Tujuan pendidikannya
Tujuan pendidikanpada saat itu adalah supaya anak-anaknya itu kelak dapat memegang kekuasaan dalam masyarakat sebagai manusia yang mempunyai kecakapan istimewa.
Manusia yang dicita-citakan adalah :
a.    Manusia yang mempunyai semangat gotong royong
b.    Manusia yang menghormati para Empu
c.    Manusia yang taat akan adapt

B.    ZAMAN PENGARUH HINDU BUDHA
Menurut teori Van leur ditegaskan pada abad-abad permulaan terjadilah hubungan perdagangan antara orang-orang Hindu dari India dengan orang-orang Indonesia. Untuk menjadi pedagang pada masa itu sukar sekali, karena banyak rintangannya, misalnya ; bajak laut dan banyak lagi resiko lainnya. Oleh karena itulah hanya Ketua Adat yang dapat menjadi pedagang, karena dialah yang bermodal besar. Kalau waktu itu orang berdagang, maka pedagang itu mempunyai sifat-sifat diplomatik. Ia mencari hubungan diplomatik dengan luar negeri. Hubungan itu penting sekali artinya bagi kelancaran perdagangan
Orang India memperkenalkan kebudayaan, bahasa, tulisan, dan agama mereka kepada nenek moyang kita. Setelah cukup banyak yang beragama Hindu, mulailah bermunculan pendatang yang antara lain bermaksud menetap. Mereka mulai memperkenalkan system pemerintahan yang sesuai dengan agama mereka. Maka berdirilah kerajaan-kerajaan Hindu di Indonesia Mungkin sekali ketua - ketua adat. dari berbagai suku bangsa kita yang sudah beragama Hindu, kemudian mengangkat diri sebagai raja-raja secara lokal.

1.    Keadaan masyarakatnya
Pada zaman purba masyarakat Indonesia adalah masyarakat gotong royong, tidak ada manusia lapisan tinggi. Masyarakat tidak berlapis-lapis. Tetapi setelah orang Hindu datang masyarakat itu berubah menjadi masyarakat feodal. Maka timbullah dua golongan manusia yaitu :
a.    Golongan yang dijamin
b.    Golongan yang menjamin
Di India terdapat empat kasta, yakni : Kasta Brahmana dan Kasta Ksatria merupakan kasta yang dijamin, sedangkan Kasta Waisa dan Kasta Syudra merupakan kasta yang menjamin. Pembagian serupa itu tidak tegas di Indonesia, tetapi meskipun demikian garis antara yang dijamin dan yang menjamin itu ada yaitu :
a.    Raja dengan pegawai-pegawainya, merupakan orang yang dijamin
b.    Rakyat adalah orang yang menjamin

2.    Keadaan pendidikannya
Pendidikan formal formal pada zaman hindu yang terjadi di kerajaan-kerajaan Tarumanegara, Kutai sudah berkembang.
a.    Materi Pelajaran :
Materi pelajaran yang diberikan adalah agama, membaca, menulis (huruf Palawa) dan bahasa Sansekerta.
Keterampilan pembuatan candi dan patung-patung mungkin diajarkan pada lembaga-lembaga pendidikan formal, demikian juga cara-cara bela diri (ilmu berperang)
b. Tenaga Pendidik/Guru
Yang mula-mula menjadi guru pada zaman itu adalah kaum Brahmana. Brahmana menjadi manusia istimewa, mereka menggantikan para Empu di Indonesia. Para Empu kemudian segera belajar kepada Brahmana. Baru setelah itu Empu-Empu itu menjadi guru dan mengganti kedudukan Brahmana.
Pada zaman itu guru terbagi menjadi dua macam yaitu :
a)  Guru keraton, yaitu golongan yang dijamin
b)  Guru pertapa, yaitu mcnginsafi tugasnya
Murid-murid guru keraton bukan anaknya atau rakyat jelata tetapi keturunan para Brahmana, anak para bangsawan dan raja (Kasta Ksatrya). Pendidikan masih terbatas kepada golongan minoritas (kasta Brahmana dan Ksatrya), pendidikan semacam ini lebih tepat dinamakan perguruan, dimana anak-anak berguru kepada para cerdik cendekia. Kemudian lembaga seperti ini dikenal dengan Pesantren, tempat para Cantri (santri). Pesantren-pesatren banyak benar persesuaiannnya dengan tempat-tempat pelajaran Hindu di India.  Sugarda-purbakawaca 1978, halaman 19, menyatakan sifat-sifat khusus pesantren adalah : “Sifat keagamaan semata-mata; penghormatan yang tinggi kepada guru, tidak  ada  gajih guru, dan perginya pelajar meminta-minta untuk memperoleh nafkah “.
Menjadi guru semata-mata karena kewajiban sebagai pandita/Brahmana yang didasarkan kepada perasaan tutus, mengabdi tanpa parnrih (tanpa memikirkan imbalan duniawi). Sistem pesantren perguruan ini berkembang terus baik pada masa Budha maupun waktu berkembangnya agama Islam, sampai saat sekarang ( pesatren tradisional ).
Guru pertapa lebih berjiwa kerakyatan. Mereka ingin mendekati rakyat dan tidak mendekati kraton, bahkan menjauhinya atau bersembunyi di hutan-hutan, supaya tak berselisih dengan kaum raja. Cita-citanya ialah mengangkat derajat rakyat jelata, kalau hal ini diketahui raja mereka akan dimasukkannya kedalam penjara. Peranan guru-guru pertapa itu penting sekali pada waktu penyebaran agama Islam.

C.    ZAMAN KERAJAAN ISLAM
Karena adanya perdagangan hertarap internasional, maka datanglah ke Indonesia agama Islam, yaitu sekilar abad ke 13. Banyak pedagang asing yang rneluaskan wilayah perdagangannya ke Indonesia, selain saudagar Cina, terdapat sekelompok pedagang yang berasal dari daerah Gujarat, India, yang mengadakan kontak secara teratur dengan dengan pedagang Indonesia yang berasal dari Sumatera dan Jawa. Saudagar-saudagar dari Gujarat tersebut sudah memeluk agama Islam. Disamping berdagang mereka juga berupaya mengajarkan dan mengembangkan agama Islam di kalangan pribumi dan masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya.
Pada waktu itu pola kekuasaan berpusat pada suatu kerajaan inti yang berkedudukan di pedalaman. Kerajaan-kerajaan pesisir hanya merupakan bawahan  (Vasal ) dari kerajaan inti, yang banyak berhubungan dengan orang asing justru kerajaan pesisir. Agama Islam yang dibawa oleh pedagang Gujarat dengan nilai-nilai budaya baru disambut dengan hangat dan diterima dengan baik oleh kerajaan pesisir agar kerajaan-kerajaan pesisir tersebut dapat melepaskan diri dari belenggu kerajaan pedalaman yang masih beragama Hindu. Faktor-faktor inilah yang mendorong tirnbulnya kerajaan pesisir yang kuat, seperti Demak  (Jawa Tengah), kemudian berangsur-angsur dapat menggeser kedudukan kerajaan pedalaman, seperti Majapahit yang masih beragama Hindu. Beralihnya pusat kekuasaan dari pedalaman ke daerah pantai, penyebaran agama islam lebih berkembang pesat keseluruh kepulauan Indonesia.
Prasasti adanya agama Islam dapat ditelusuri sampai tahun 1082 dengan adanya Batu Nisan di Leran dekat Gresik (jawa Timur) yang menyebutkan meninggalnya seorang wanita bernarna Fatimah binti Maimun pada tahun 475 Hijriyah (1082 Masehi). Kerajaan Islam tertua di Indonesia adalah Samudera Pasai yang didirikan oleh Sultan Malik Al-Saleh, meninggal tahun 1297 Masehi.
Peng Islaman di daerah bagian utara Sumatera ini agaknya telah lama berlangsung. Pengembara terkenal dari Venesia (Italia), Marco Polo pada tahun 1292 M singgah di bagian utara Aceh. Ia menjumpai banyak penduduk Islam dan mengutarakan pula peranan pedagang-pedagang Gujarat dari India. Penyebaran agama Islam keseluruh Indonesia dapat terlaksana melalui pusat-pusat perniagaan di daerah pantai Sumatera Utara dan melalui urat nadi perdagangan di Malaka, kemudian menyebar ke Pulau Jawa dan seterusnya ke Indonesia Bagian Timur. Peralihan dari agama dan kebudayaan Hindu/Budha ke Islam walaupun ada peperangan, pada umumnya berlangsung secara damai. Ketika agama Islam memasuki Indonesia, pengaruh ajaran dan cara berfikir Hindu masih kuat dan berakar di kalangan penduduk. Pada masa itu ada dua tipe guru, yaitu; yang per-tama guru untuk kalangan keraton dan bangsawan yang diundang atau hidup dilingkungan keraton untuk mengajar para putera raja dan kesatria lainnya; dan yang kedua adalah guru pertapa yang menyendiri bertapa di tempat-tempat jauh dari keramaian sambil  belajar, serta mendalami ilmu-ilmu ke Tuhanan    beserta    ilmu lain dan muridnya berasal dari rakyat jelata atau orang kebanyakan. Para penyebar agama Islarn hanyak menghubungi guru tipe kedua ini sehingga melalui merekalah agama Islam tersebar luas di Indonesia. Beberapa tokoh penyebar agama Islam di Pulau Jawa yang paling terkemuka berjumlah sembilan orang, kemudian disebut Wali Sanga dan diberikan sebutan atau gelar Sunan  (berasal dari kata susuhunan) yang berarti “yang dijunjung tinggi”

1.    Perkembangan Pendidikan
Dua lembaga pendidikan yang memegang peranan penting pada penyebaran agama Islam di Pulau Jawa adalah langgar dun pesatren. Karena Islam berprinsif demokrasi, maka pengajarannya merupakan pengajaran rakyat. Tujuannya memberikan pengetahuan tentang agama, bukan untuk memberikan pengetahuan umum.
a.    Langgar
Pengajaran di Langgar merupakan pengajaran agama permulaan.yaitu menghafal rukun Iman dan rukun Islam, belajar tuntunan sholat dan belajar  “ membaca Alquran. Pelajaran agarna di langgar dimulai dengan membaca alquran. Mula-mula murid mempelajari abjad Arab, kemudian mengeja ayat-ayat Qur’an pertama dengan irama suara tertentu.
Pelajaran diberikan dengan sistem sekepala. Guru menyebutkan sesuatu dan murid menirunya. Yang dicita-citakan ialah dapat membaca Qur’an sampai tamat. Lamanya belajar tidak tentu; biasanya berlangsung kurang lebih satu tahun, tetapi kadang-kadang hanya diikuti selama beberapa bulan saja. Biasanya pelajaran diberikan pada pagi hari dan malam hari, berlangsung kira-kira dua jam lamanya.
Yang menjadi gurunya adalah seseorang yang sudah memiliki pengetahuan agama yang agak mendalam. Guru itu tetap dipandang sebagai seorang yang sakti. Murid-murid tidak boleh mengecam guru, mengecam guru dianggap berdosa.
Uang sekolah tidak dipungut, tergantung kepada kerelaan orang tua murid, boleh memberikan tanda mata berupa benda atau uang. Bahkan bagi orang tua yang miskin, anaknya dapat mengikuti pelajaran tanpa membayar. Bila seorang murid sudah menamatkan pelajarannya, dalam arti sudah dapat rnembaca Qur’an sampai tamat, maka diadakanlah selamatan, khataman namanya. dengan mengundang makan teman-temannya atau kerabat dekat di rurnah guru atau Langgar. Pada kesempatan ini murid yang telah khatam, mendemontrasikan kemampuannya membaca Alquran di depan para undangan dan murid (santri) yang belajar di langgar, berasal dari anak-anak maupun orang tua yang berada disekitar Langgar atau tetangga desa. Hubungan antara guru dan murid pada umumnya tetap berlangsung walaupun murid  kemudian meneruskan pendidikan pada lembaga yang lebih tinggi di Madrasah atau Pesantren di desanya atau desa  lain.
Sebagai lembaga sosial Langgar itu penting artinya. Anak-anak rakyat lambat laun menyadari menjadi anggota persekutuan besar, yakni persekutuan umat Islam.

b.    Pesatren
Pengajaran yang lebih lanjut dan lebih mendalam diberikan di pesantren. lembaga pendidikan ini sebenarnya sudah ada sejak zaman Hindu Budha, kemudian dilanjutkan oleh para wali dan ulama Islam. Jadi pendidikan yang dilaksanakan oleh para wali mempergunakan cara-cara yang oleh para pandita Hindu telah dilaksanakan. Para Kiai  (ulama Islam), didatangi oleh para murid/santri, biasanya para pemuda untuk berguru kepadanya. Para wali mempergunakan pula cara-cara yang telah dilakukan oleh para pandita dalam pesantren-pesantren. Para wali mempergunakan media yang sudah dikenai masyarakat sebelumnya, jadi ceritera Ramayana dan Mahabarata dalam berrtuk wayang untuk menyampaikan pelajarannya.
Perbedaan dalarn pelajaran pada pesantren Islam dengan pesantren Hindu dan Budha ialah dalam bahan pelajaran agama. Pesantren Islam mengajarkan agama Islam. Salah satu perbedaan lain, agama Islam lebih bersifat dernakratis karena tidak membeda-bedakan asal keturunan. Semua berhak dan bahkan wajib belajar agama agar menjadi manusia yang taqwa kepada Tuhan. Sedangkan pengajaran Hindu bersifat aristokratis. Artinya hanya sebagian dari anggota masyarakat, yaitu kasta Brahmana dan Kesatrya yang mendapat pendidikan.
Pada zaman Islam pendidikan merupakan suatu tuntutan agar semua muslim mendapatkan pengajaran. oleh sebab itulah maka pendidikan diselenggarakan di langgar-langgar, mesjid, surau (Minangkabau ) atau dl rangkang  (Aceh). Pendidikan diselenggarakan secara amat sederhana yang merupakan pendidikan pendahuluan.
Di pesantren, murid-muridnya dinamakan santri, pada umumnya terdiri dari anak-anak yang lebih tua dan telah memiliki pengetahuan dasar yang mereka peroleh di langgar atau mesjid. Para santri yang biasanya berasal dari berbagai tempat, dikumpulkan dalam suatu ruangan yang disebut pondok (semacarn asrama). Mereka bergaul dengan suasana keagarnaan, saling tolong menolong bergotong royong dan kadang-kadang membantu menyelesaikan pekerjaan gurunya. Berdekatan dengan pondok berada mesjid dan rumah guru. Guru biasanya disebut ajengan atau kiyai.
Mata pelajaran yang diberikan di pesantren adalah ; (1) Ilmu Usuluddin yang membahas pokok-pokok ajaran kepercayaan, (2) Usul Fidh (alat penggali hukum dari Alquran dan Hadist), (3) Fiqh (cabang dari Usuluddin), (4) membaca dan menulis Arab.
Pesantren tidak rnemiliki kurikulum yang tertulis. Hal ini sangat ditentukan oleh kiyai yang memimpin pesantren tersebut. Jadi tidak ada tingkatan dalam pesantren, sehingga kita sulit menentukan apakah pesantren rendah, menengah atau tinggi, seperti disebutkan di atas sebagian besar mata pelajaran yang diberikan adalah agarna Islam. Tidak diberikan ilmu pengetahuan umum. Ini suatu kieanehan dalam pendidikan Islam, karena di Negara Arab sendiri antara pelajaran ilmu pengetahuan dan agama ada keseimbangan. Jadi rupanya pengaruh agama Hindu sangat besar sekali  terhadap pesantren Islam. Pengaruh ini terlihat pula pada penghormatan terhadap guru yang sangat besar. Sehingga apa yang dikatakan oleh guru dianggap sebagai sesuatu kebenaran yang tidak boleh dibantah
Lamanya belajar di pesantren setiap santri tidak tentu, ada yang setahun tetapi ada juga yang sampai sepuluh tahun atau lebih, tergantung kepada kecepatan santri dalarn menerima pelajarannya.
Kegiatan santri di pesantren setiap harinya adalah sebagai berikut : Jam 04.00 mereka bangun kemudian sembayang subuh setelah selesai sembahyangi; mereka mulai belajar, kemudian  bekerja membantu  kiyai, misalnya; membersihkan halaman, berkebun, bekerja di sawah, dan sebagainya. Setelah itu sembahyang dhuhur dan makan siang.  Sesudah makan siang semua beristirahat, kemudian dimulai lagi dengan pelajaran, dan diselingi dengan menghafal. Setelah sembahyang magrib atau isya dimulai lagi dengan pelajaran. Kepada santri yang telah dipandang tinggi tingkatan pelajarannya diberikan pelajaran dari berbagai kitab dengan sistim klasikal. Jam 21.00 mereka tidur. Piket malam biasanya mereka lakukan secara bergantian.

D.    ZAMAN PENGARUH PORTUGIS DAN SPANYOL
Karena berkembangnya perdagangan, maka pada permulaan abad ke 16 datanglah ke Indonesia bangsa Eropah pertama yaitu bangsa Portugis, kemudian disusul oleh bangsa Spanyol. Waktu orang-orang Portugis datang ke Indonesia, selain untuk berdagang, mereka dibarengi oleh missionaries yang bertugas untuk menyebarkan agama Nasrani (Katolik) dikalangan penduduk Indonesia.
Salah seorang yang dianggap sebagai peletak batu pertama dari agama Katolik di Indonesia adalah Franciscus Xaverius berpendapat bahwa untuk mernperluas penyebaran agama Nasrani itu perlu sekali didirikan sekolah-sekolah. Pada tahun 1536 didirikanlah sebuah. Seminare di Ternate, yaitu sekolah agama Katolik bagi anak-anak orang terkemuka, selain pelajaran agama, diberikan juga, pelajaran membaca, menulis dan berhitung).
Di Solor juga didirikan semacam Seminare dengan jumlah jurnlah muridnya pada waktu itu sekitar 50 orang, di sekolah itu di ajarkan juga bahasa latin. Pendidikan  yang lebih tinggi diberikan di Goa, pusat kekuasaan  Portugis di Asia. Pemuda¬ pemuda Indonesia yang cakap dikirimkan kesana untuk mendapatkan pendidikan. Kelak mereka dijadikan pembantu-pembantu Paderi
Pada tahun 1546 di Ambon sudah ada tujuh kampung yang penduduknya memeluk agama Katolik. Disana diselenggarakan pula pengajaran untuk rakyat yang bersifat umum.
Karena sering timbul pemberontakan-pemberontakan, terutama dari Sultan Ternate dan juga banyak peperangan yang harus dihadapi dengan orang-orang Spanyol, Inggeris dan Belanda, maka pada ahir abad ke 16 habislah kekuasaan Portugis di Indonesia. Ini berarti pula habisnya riwayat missi Katolik di daerah Maluku. Missi ini adalah missi Negara, artinya para missionaris mendapat jaminan hidup dari Negara. Sehingga jatuhnya Negara, mengakibatkan hilang nya tenaga missi itu, dengan demikian usaha-usaha pendidikan terpaksa harus dihentikan.

E.    ZAMAN PENGARUH BELANDA
1.    Zaman VOC ( Kompeni ) 1602 – 1799
Dengan berahirnya kekuasaan Portugis, maka timbullah kekuasaan baru, yaitu kekuasaan Belanda. Bangsa Belanda lah yang berhasil mengusir orang-orang Portugis dari Indonesia. Tujuan orang Belanda datang ke Indonesia mulanya untuk perdagangan saja. Kemudian mereka memutuskan untuk menyaingi orang Portugis yang menyebarkan agama katolik, di Maluku dan Nusa Tenggara. Bahkan dikabarkan bahwa orang Spanyol dan Portugis sudah mendirikan sekolah guru di Ternate, sekolah guru ini konon sekolah guru yang tertua di Asia (1536). Orang Belanda yang telah bersatu dalam badan perdagangan VOC, menganggap perlu menggantikan agama Katolik yang telah disebarkan orang Portugis itu dengan agamanya yaitu agama Protestan. adalah badan milik orang Belanda, yang memejuk agama Protestan)
Untuk menyebarkan agama (Protestan tersebut maka pada tahun 1617 VOC mendirikan sekolah. Sekolah itu pertama-tama ditujukan untuk mereka yang telah beragama Kristen (Protestan). Sekolah-sekolah itu terdapat di Ambon, Ternate, Menado, Jakarta (Batavia), Bawean, Timor, Maluku  dan Nusa Tenggara Timur. Di Pulau Jawa sekolah-sekolah hanya terbatas di kota dan pantai untuk menampung pegawai VOC yang beragama Kristen. Hubungan antara kompeni dengan rakyat di Pulau jawa tidak serapat di Maluku, karena : (1). Rakyat di Pulau Jawa sedikit sekali menghasilkan rempah-rempah untuk keperluan pasar dunia, (2) Rakyat di Pulau Jawa tidak terkena pengaruh Portugis. Agama Katolik tidak masuk ke Pulau Jawa, karena, dua alasan itu lah sehingga di Pulau Jawa tidak ada susunan persekolahan dan gereja yang seluas di Maluku. Kalau ada juga pemeluk-pemeluk agama Nasrani, hanya dijumpai pada beberapa kota pelabuhan saja. Yang terbanyak pemeluknya di Batavia (Jakarta).
Setelah kerajaan Belanda mengahiri wewenang VOC sebagai wakil mahkota dan pemerintahannya di Nusantara (Hindia Timur).

2.    Periode 1801 - 1900
Sejak pertengahan abad ke 19 liberalisme dan aufklarung dari Eropah telah mempengaruhi politik Belanda di Indonesia. Gubernur Jenderal Daendels, meminta agar diselenggarakan pengajaran untuk memperkenalkan kesusilaan, adat istiadat, hukum dan agama kepada orang jawa. Kemudian pada tahun 1848 barulah dimulai anggaran pendidikan sebanyak f 25.000,- untuk semua orang-orang Indonesia.
Sambil mengijinkan sekolah swasta, pemerintah mendirikan sekolah rendah, kelas dua selama 5 tahun untuk rakyat dengan pelajaran terbatas seperti : Bahasa Melayu, Bahasa Ibu, Berhitung, Menulis, Ilmu Bumi, Pengukuran Tanah dan Latihan Kerja Kantor. Bentuk baru dalam lapangan pengajaran terjadi pada pemerintahan Daedels menaruh perhatian pada pengajaran rakyat hal ini dapat dibuktikan seperti :
a.     Pada tahun 1808 ia memberi perintah pada bupati-bupati di Pulau Jawa agar pengajaran tersebar di kalangan rakyat dan iiap-tiap distrik mempunyai sekolah. Perintah ini tak sempat dijalankan, karena 3 tahun kemudian pemerintah jatuh ketangan orang Inggeris. Meskipun demikian perintah itu mempunyai arti yang penting. Dengan adanya perintah itu, pemerintah untuk pertama kali mengakui, " bahwa sudah menjadi tugasnya untuk memberikan pengajaran pada rakyat. Jadi pengajaran itu tidak hanya terbatas pada kelompok-kelompok tertentu saja, seperti kepada orang Eropah dan orang Indonesia yang memeluk agama Nasrani.
b. Tahun 1809 untuk perlama kali diselenggarakan pendidikan Bidan, yang rnerupakan bagian dari pada usaha pemeliharaan kesehatan rakyat. Yang menjadi gurunya adalah para dokter yang berada di Batavia. Bahasa pengantarnya adalah bahasa Melayu
c. Sebagai usahanya untuk " memajukan tari-tarian rakyat " dan untuk menjauhkan bangsa Indonesia dari semangat kepahlawanan, maka pada tahun 1809 di Cerebon didirikan sekolah Ronggeng. Sekolah itu mcnjadi tanggungan Sultan. Di sekolah itu dididik, terutama sekali anak-anak perempuan yang tak mampu dan usianya belum 12 tahun. Uang sekolah tidak dipungut, kecuali bagi anak-anak orang kaya. Lamanya belajar 4 tahun. Yang diajarkan selain menari dan menyanyi, juga membaca dan menulis. Pada hakekatnya sekolah itu lebih merupakan usaha untuk mer~demoral isasikan pemuda-pemuda Indonesia.
3.    Masa sesudah 1900 sampai berakhirnya pemerintahan Belanda
Sejak akhir abad ke 19 di Nederland ikut berkembang ide demokratis yang menghendaki perluasan pendidikan dan atau pemberian subsidi pada perguruan swasta yang sudah ada. Muhammadiyah yang tak pernah meminta subsidi akhirnya juga diberi dana subsidi
Menteri Pengajaran dan Agama yang tadinya berupaya seorang diri meluaskan Pengajaran bahasa belanda dan pendidikan wanita kembali ikut mendapat semangat baru. RA. Kartini dan orang Belanda, banyak yang mulai melihat bahwa sekolah kejuruan dapat memajukan kesejahtraan sosial. Maka pemerintah telah mengadakan dua macam pendidikan dasar yaitu:
a.    Sekolah standar untuk bumi putera, yakni sekolah kelas dua
b.    Sekolah desa (3 tahun) untuk rakyat
Selain itu pada tahun 1914 juga didirikan sekolah dasar HIS sebagai bentuk sekolah kelas satu untuk bumi putera. Kebanyakannya dari semua itu adalah politik balas budi Belanda kepada negeri jajahannya. Tetapi efeknya terhadap perluasan pendidikan belum ada hubungannya dengan nasionalisme, karena yang memanfaatkannya terutama hanya lapisan atas bangsa kita.

Tinjauan dari uraian di atas itu dengan jelas terdapat 2 hal kepada kita yaitu :
1)    Penyebaran pengajaran bagi rakyat umum selalu ditunda-tunda. Usaha perluasan sekolah-sekolah bagi anak-anak Indonesia selalu mendapat tantangan. Tampaknya pemerintah kolonial takut, bahwa perluasan sekolah-sekolah yang terlalu cepat bagi orang Indonesia dapat merupakan bahaya besar, bagi kedudukan kaum penjajag
2)    Tujuan sekolah bukan untuk mendidik rakyat, bukan untuk mempertinggi taraf kehidupan rakyat melainkan untuk kepentingan kaum penjajah juga, yaitu : untuk menutup-nutupi kebutuhan pegawai-pegawai murahan.

F.    POLITIK ETIKA PENGAJARAN
Perkembangan Sosial Pada Permulaan Abad ke 20
Indonesia yang kaya raya dikeruk terus-menerus oleh kaum imperialis-kapitalis Belanda. Keuntungan mengalir terus ke negeri Belanda, tetapi disisi lain bangsa Indonesia semakin sengsara dan miskin. Hal ini sangat menggelisahkan kaum importer Belanda, yang banyak sekali memasukkan ke Indonesia hasil-hasil perindustrian dari Eropah Barat. Untuk itulah kaum importer berusaha memperbaiki dan memperkuat ekonomi rakyat Indonesia yang sudah rusak itu. Hal itulah yang rnenimbulkan " politik etika atau politik asosiasi " (dengan resmi dikemukakan tahun 1901), yang bertujuan memberi kebahagiaan dan kemakmuran kepada bangsa Indonesia dengan menyelenggarakan pendidikan, pengairan (irigasi) dan perpindahan (emigrasi). Padahal latar belakang yang sebenarnya adalah untuk kepentingan kaum importer  dan kaum industri itu sendiri
Akibatnya di Lapangan Pendidikan
  •     Pengajaran Rendah Bumi Putera
Dalam rangka memperbaiki pengajaran rendah bagi burni putera, maka pada tahun 1907 diambil dua tindakan penting yailu :
  •    Memberi corak dan sifat ke Belanda-belandaan pada sekolah-sekolah kelas 1
Kedalam sekolah-sekolah kelas I dimasukkan bahasa Belanda sebagai mata pelajaran dan muIai diberikan sejak kelas 3 s/d kls 5. Setelah lama belajar di sekolah itu dijadikan 6 tahun, maka di kls 6 bahasa Belanda dijadikan bahasa pengantar (sejak tahun 1911 menjadi 7 tahun). Pada tahun 1914 sekolah kls I itu dijadikan HIS (Hollands Inlandse School ). HIS tetap bagi anak-anak kaum bangsawan dan orang-orang terkemuka.
  •     Mendirikan sekolah-sekolah Desa
Atas perintah Gubernur Jenderal Van Heutsz pada tahun 1907 didirikan sekolah-sekolah Desa. Guru-gurunya adalah pegawai desa, bukan pegawai negeri. Bangunan-bangunannya dan biaya-biaya lainnya, semua menjadi tanggungan desa Pada hakekatnya sekolah ini hanya memberantas buta huruf belaka. Pendidikan dalam arti sesungguhnya tidak diberikan, kecuali membaca, memulis dan berhitung. Lama belajar 3 tahun.
Pada tahun 1915 didirikanlah sekolah Vervolg sebagai lanjutan sekolah Desa, lama belajar 2 tahun . Berdampingan dengan sekolah desa dan sekolah vervolg berdiri sekolah burni putera kelas 2, sejak tahun 1902. Lama belajar, dari 3 tahun menjadi 5 tahun.
Setelah timbul krisis pada tahun 1929, yang mernaksa diadakan penghematan, Pemerintah mengambil tindakan yang pasti :
Semua sekolah-sekolah kls di diubah menjadi sekolah -sekolah Desa (onderbouw = tingkat bawah) dengan sekolah-sekolah Vervolgnya, (bavenbouw = tingkat atas ), dengan ada beberapa perkecualian
Sekolah-sekolah kelas II dapat terus diselenggarakan :
a.    Sebagai sekolah-sekolah Latihan dari pada Normaalschool bagi guru-guru Bantu bumi putera
b.    Sebagai sekolah-sekolah bagi anak-anak militer bumi putera (sekoIah tangsi )
c.    Dalam kota-kota Bogor dan Bandung
Maka kini jelas bagi kita ada nya tiga susunan pengajaran rendah bagi anak-anak Indonesia yaitu :
a.    Sekolah Desa, bagi anak-anak rakyat jelata
b.    Sekolah kela II, yang kemudian diubah rnenjadi sekolah Vervolg, bagi anak-anak yang lebih banyak berkenalan dengan unsur-unsur kebudayaan barat
c.    Sekolah kelas I, yang sejak tahun 1914 dijadikan HIS, bagi anak-anak priyayi dan kaum terkemuka.
Karena itu tidak mengherankan kalau dunia unak Indonesia mengalami perpecahan karena, golongan yang satu merasa lebih tinggi dari golongan yang lain.
  •     M U L O ( Meer Uitgebreid Lage Onderwijs)
MULO merupakan lanjutan dari HIS, sejak jaman Jepang hingga sekarang bernama SMP, mulai berdiri pada tahun I914. Sebenarnya sejak tahun 1903, pada beberapa sekolah Belanda dibuka kursus Mulo, yang memberikan pengajaran lanjutan. Lama belajarnya yang mula-mula ditetapkan 2 tahun, kemudian diubah menjadi 3 tahun. Kursus itu sebagai lanjutan dari sekolah rendah Belanda, hanya dapat dikunjungi anak-anak Belanda saja.
Setelah kursus itu pada tahun 1914 dirubah menjadi sekolah Mulo dan berdiri sendiri, lepas dari sekolah rendah Belanda. Karena adanya reorganisasi tersebut, membawa 2 perubahan penting yaitu :
a.    Kalau semula pengajaran ini khusus untuk anak-anak Belanda saja, maka kini anak-anak Indonesia yang telah menamatkan HIS dapat masuk
b. Kursus Mulo, hanya merupakan sambungan dari sekolah rendah Belanda dan memberikan pengajaran akhir. Kini diubah tujuannya, yaitu :
a)    Menjadi onderbouw (tingkat bawah) dari sekolah-sekolah kejuruan menengah.
b)    Juga menjadi onderbouw dari pengajaran  menengah
  •     AMS (Algemene Middelbare  School )
Untuk memberikan kemungkinan pada pemuda-pemuda Indonesia , guna melanjutkan pelajaran yang lebih tinggi dari Mulo, maka didiri kanlah suatu sekolah tingkatan menengah yang diberi nama AMS, (sederajat SLTA). Sekolah baru ini dapat membawa pemuda-pemuda kita keperguruan tinggi, lamanya belajar 3 tahun.
AMS ini dibagi menjadi 2 bagian yaitu :
•    Bagian A    : Ilmu Pengetahuan Kebudayaan
•    Bagian B    : Iimu Pengetahuan Kealaman
Bagian A dipecah lagi menjadi dua bagian :
  •    Bagian A I : bagian kesusasteraan Timur
Meskipun bahasa pengantar- di hagian ini adalah bahasa Belanda, tetapi mata pelajaran pokok ialah ; bahasa jawa, bahasa Melayu, Sejarah Indonesia, Ilmu Bangsa-bangsa
  •    Bagian A II : Bagian klasik barat, mata pelajaran pokok adalah bahasa Latin.

G.    USAHA-USAHA RAKYAT DI LAPANGAN PENDIDIKAN
Kebangkitan Nasional
Indonesia yakin, bahwa fajar kemerdekaan telah berada  di ambang pintu harus tampil kedepan. vlaka lahirlaiv pergerakvn-pc;rgerakan kebangsaan/keagamaan sebagai alat perjuangan rnencapai kemerdekaan. Semua itu berupa perwujudan kesadaran berorganisasi, sebagai langkah perkara untuk berdiri sendiri. Dengan sendirinya kesadaran berorganisasi itu, yang diliputi oleh perasaan nasional yang murni, menimbulkan perkembangan baru di  lapangan  pendidikan dan pengajaran. Maka lahirlah perguruan-perguruan nasional. Mereka sadar ingin merubah keadaan yang kurang tepat. Mereka insaf, bahwa penyelenggaraan pendidikan yang bersifat nasional harus segera dimasukkan kedalam program perjuangannya. Maka lahirlah sekolah-sekolah partikelir atas usaha-usaha perintis kemerdekaan. Sekolah-sekolah itu mula-mula bercorak dua : (1) Sesuai dengan haluan politik, (2) Sesuai dengan tuntutan agama ( Islam )
Yang termasuk kedalam golongan kesatu adalah :
  •     Taman siswa, yang mula-mula didirikan di Jogyakarta
  •     Sekulah Serikat Rakyat di Sernarang, yang berhaluan komunis
  •     Kesatriaan institut, yang didirikan oleh Dr. Douwes Dekker (Dr. Setiabudi) di Bandung.
Yang termasuk kedalam golongan kedua adalah  :
•    Sekolah-sekolah sarikat Islam
•    Sekolah-sekolah Muhammadiyah
•    Surnatera Tawalib di Padang Panjang
•    Sekolah-sekolah Nahdatul Ulama
•    Sekolah-sekolah Persatuan Umat Islam (PUI) dll   

H.    ZAMAN JEPANG

Kejayaan dan masa keemasan kaum penjajah Belanda hilang lenyap sekaligus, ketika pada tanggal 8 Maret 1942 mereka bertekuk lutut tanpa syarat kepada Jepang. Maka Bangsa Indonesia mengalami penjajahan dan penderitaan baru.
Segeralah dimulai dengan pemerasan. Agar pemerasan dan tindakan-tindakan lainnya tidak dirasakan oleh bangsa Indonesia maka cepat-cepat ditanamkan ideologi baru yaitu ideologi " Hakko Ichiu atau ideologi kemakmuran bersama " di Asia Timur Raya.
Perkernbangan Pendidikan dan Pengajaran
Usaha penanaman ideologi Hakko Ichiu di sekolah-sekolah di mulai dengan mengadakan latihan guru-guru. Guru-guru dibebani tugas sebagai penyebar ideologi baru.  Latihan itu dipusatkan di Jakarla.
Perubahan-perubahan penting  yang terjadi pada zaman Jepang, khususnya bagi perkembangan pendidikan/pengajaran selanjutnya di Indonesia.
1.    Hapusnya dualisrne pengajaran
Berbagai jenis sekolah rendah yang dilaksanakan pada.zaman Belanda, dihapuskan sama sekali.. Hanya satu jenis sekolah rendah diadakan bagi semua lapisan masyarakat yaitu sekolah rakyat 6 tahun yang populer dengan nama “ Kokumin Gakkoo. Sekolah-sekolah Desa masih tetap ada dan namanya diganti menjadi Sekolah Pertama.
 Susunan pengajaran menjadi :
a.    Sekolah Rakyat 6 tahun, termasuk Sekolah Pertama
b.    Sekolah Menengah 3 tahun
c.    Sekolah Menengah  Tinggi 3 tahun ( SMA  pada zaman Jepang )
2.    Pemakaian Bahasa Indonesia, baik Sebagai bahasa resmi maupun sebagai bahasa pengantar pada tiap-tiap jenis sekolah, telah dilaksanakan tetapi sekolah-sekolah itu dipergunakan juga sebagai alat untuk memperkenalkan kebudayaan Jepang kepada rakyat. Bahasa Jepang dijadikan mata pelajaran wajib dan adat kebiasaan Jepang harus pula ditaati.

Isi Pengajaran :
Selain sebagai alat propaganda, maka pengajaran dewasa itu dipergunakan juga untuk kepentingan perang. Murid-murid sering kali diharuskan melakukan kinrohooshi (kerja bakti). Agar sesuatu berjalan lancer, ditentuklah barisan-barisan murid ditiap¬tiap sekolah, yaitu :
•    Seinen tai, barisan murid-murid Sekolah Rakyat
•    Gakuto tai, barisan murid-murid Sekolah Lanjutan
Untuk menanamkan semangat Jepang, setiap hari murid-murid harus mengucapkan sumpah pelajar dalam bahasa Jepang. Sewaktu-waktu diadakan perlombaan bahasa dan nyanyian-nyanyian jepang. Tiap pagi diadakan upacara, ketika upacara itu murid-murid harus menyembah bendera Jepang dan melakukan penghormatan kearah istana Tokyo. Agar bahasa Jepang lebih popular, maka diadakan ujian bahasa Jepang untuk kaum guru dan pegawai-pegawai lainnya dan orang yang sudah dewasa. Ujian itu bertingkat-tingkat. Tingkat terendah disebut tingkat  ke 5, naik ke tingkat 4, ke 3, ke 2, ke 1. Untuk menarik hati para pegawai, maka pemilik ijazah bahasa Jepang itu mendapat tambahan upah.

Pendidkan guru untuk SD
Jenis jenis pendidikan guru untuk SD, menjadi :
a.    SG (Sekolah Guru) - 2 tahun, yang dinamakan Sjootoo Sihan Gakkoo (Sjootoo = rendah )
b.    SGM (Sekolah Guru Menengah)- 4 tahun, yang dinamakan CuutooCihan Gakkoo (Cuutoo = menengah )
c.   SGT (Sekolah Guru Tinggi) - 6 tahun, yang dinamakan Kootoo Sihaa Gakkoo ( Kootoo=tinggi j
Bahasa pengantar ketiga jenis Sekolah Guru tersebut adalah Bahasa Indonesia.
Usaha "Panitia Persiapan Kemerdekaan" di lapanlgan Pendidikan dan Pengajaran
Dengan leluasa dan sekehendak hati bangsa Jepang terus menindas dan memeras bangsa Indonesia. Maka timbullah pemberontakkan terhadap Jepang. Bangsa Indonesia bangkit untuk melawan penjajah, semangat menyala-nyala. Bangsa Jepang kewalahan. Segera mereka menjanjikan kemerdekaan Indonesia di kemudian hari, maka dibentuklah Panitia Persiapan Kemerdekaan yang diketuai oleh Ir. Sukarno. Usaha " Panitia " di bidang pendidikan dimulai dengan membentuk " Sub Panitia Pendidikan dan Pengajaran " yang diketuai oleh Ki Hajar Dewantara, dengan angota :
  •     Prof Dr. Hoesein Djajadiningrat
  •     Prof Dr. Asikin
  •     Prof Dr. Rooseno
  •     Ki Bagus Hadikusumo
  •     Kiyai Haji Masykur
Sub Panitia itu mendapat tugas untuk merumuskan suatu rencana cita-cita dan usaha-¬usaha pendidikan/pengajaran rencana usaha itu nanti dengan sedikit perubahan mendapat pengesahan dan Panitia Pusat, lahir bersama-sama dengan Undang-Undang Dasar.
Isi Rencana usaha Pendidikan dan Pengajaran
Hasil karya " Sub Panitia Pendidikan dan Pengajaran " itu semua terdiri dari 10 pasal. Yang perlu segera diketahui adalah :mengenai dasar dan tujuan pendidikan seperti yang telah ditetapkan oleh " Sub Panitia " itu pada pasai 2, berbunyi demikian : " Dalam garis¬-garis adabperikemanusiaan, seperti terkandung dalam segala pengajaran agama, maka pendidikan dan pengajaran nasional bersendi agama dan kebudayaan bangsa serta menuju kearah keselamatan clan kebahagiaan masyarakat ".

I.    ZAMAN KEMERDEKAAN
Proklamasi Kemerdekaan menimbulkan hidup baru disegala lapangan termasuk Iapangan pendidikan. Sebagai modal dan peduman pertarna bagi rakyat dan pemerintah di bidang pendidikan dipergunakanlah " Rencana Usaha Pendidikan Pengajaran " yang telah dipersiapkan pada hari-hari terakhir penjajahan Jepang itu. Dengan segera Menteri PP dan K yang pertama Ki Hajar Dewantara mengeluarkan instruksi umum yang memerintahkan kepada semua kapala sekolah dan guru-guru :
1.    Mengibarkan Sang Merah Putih tiap-tiap hari dihalaman sekolah
2.    Melagukan lagu kebangsaan " Indonesia Raya "
3.    Menghentikan Pengibaran Bendera Jepang dan rnenghapuskan  “Kimigajo” (lagu kebangsaan Jepang)
4.    Menghapuskan pelajaran bahasa Jepang, serta segala upacara yang berasal dari pemerintahan Balatentara Jepang
5.    Memberi semangat kebangsaan kepada semua murid-murid   

Selain "Rencana usaha pendidikan/pengajaran " dan " Intruksi Umum " dari Menteri PP dan K yang pertama, Pemerintah dan rakyat mempergunakan juga UUD 1945 sebagai pedoman di lapangan pendidikan.
Menjelang lahirnya Undang-Undang Pokok Pendidikan dan Pengajaran, maka pada tahun 1946 Menteri PP dan K (Mr. Soewandi) membentuk “ Panitia Penyelidik Pendidikan dan Pengajaran” yang diketuai oleh Ki Hajar Dewantara.
Pada tanggal 4 s/d 7 Maret 1947 di Solo diadakan " Kongres Pendidikan Indonesia ". Dibawah pimpinan Prof. Sunarya Kalapaking dengan rnaksud meninjau kembali berbagai masalah pendidikan/pengajaran.
Pada tahun 1948 Menteri PP dan K (Mr. Ali Sastroamidjojo) rnembentuk "Panitia Pembentukan Rencana Undang-Undang Pokok Pendidikan dan Pengajaran" yang diketuai oleh Ki Hajar Dewantara, yang diberi tugas untuk menyusun Rencana Undang-Undang  Pokok Pendidikan dan Pengajaran di sekolah.
Pada tahun 1949 diadakan Kongres Pendidikan yang kedua di Jogyakarta. Masalah-masalah yang harus mendapatkan pemecahan berarti ia terutama sekali mengenai dasar¬dasar Pendidikan, hubungan antara pendidikan dan kebudayaan, dll
Pada Tahun 1950 lahirlah Undang-Undang tentang Dasar-Dasar Pendidikan dan Pengajaran di SekoIah untuk seluruh Indonesia, yaitu Undang-Undang No 4 tahun 1950 dengan nama Undang-Undang tentang Dasar-Dasar Pendidikan dan Pengajaran di Sekolah selanjutnya disingkat menjadi UUPP, yang berisi 17 bab dan 30 pasal. Pasal 3 tentang tujuan pendidikan dan pengajaran berbunyi demikian : " Tujuan pendidikan dan pengajaran ialah membentu manusia susila yang cakap dan warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air. Sedangkan Bab III, Pasal 4, " Tentang Dasar-Dasar Pendidikan dan Pengajaran " berbunyi sbb : Pendidikan dari pengajaran berdasarkan atas azas-azas yang termaktub dalam " Pancasila " Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia dan atas tebudayaan kebangsaan Indonesia.
Dari kedua pasal tersebut jelaslah tugas apa yang diletakkan di atas bahu kaum guru, sebagai pendidik nasional. Kedua pasal itu menegaskan, harus kemana kita membawa anak-¬anak Indonesia itu dan berdasarkan apa pendidikan dan pengajaran harus kita berikan di Indonesia  pada zaman kemerdekaan ini.

Kebijakan Link and Match
Untuk mendukung program pembangunan dibidang Pendidikan dikembangkan kebijakan link and match yaitu konsep keterkaitan dan kepadanan yang dijadikan strategi operasional dalam meningkatkan relevansi Pendidikan. Arti kansep ini adalah (Link and Match, 1993 :
l.        Link : berarti pendidikan memiliki kaitan fungsional dengan kebutuhan pasar.
2.     Match : berarti lulusan  yang mampu memenuhi  tuntutan para pemakai baik jenis, jumlah maupun mutu yang dipersyaratkan.
Disamping kebijakan di atas, inovasi-inovasi penciidikan juga sudah dilaksanakan, untuk mencapai sasaran pendidikan yang dinginkan. Ternyata inovasi-inovasi itu gagal karena hanya mengejar target kuantitatif atau pemerataan pendidikan saja, disamping karena heterogenitas budaya dan luasnya Negara Indonesia. Oleh karena itu (Tilaar, 1996) mengharapakan, inovasi pendidikan bersumber dari hasil-hasil penelitian di Indonesia.
Sernentara itu Alisyahbana (1990) rnengemukakan ada 3 macam pesimisme dikalangan para ahli pendidikan, yaitu :
a.    Pemerintah seolah-olah belum memiliki political will yang kuat untuk memperbaiki  pendidikan.
b.    Orang Indonesia memiliki budaya begitu lamban melakukan transformasi social, yang sangat perlu untuk mengadakan adaptasi terhadap dunia yang berubah dengan cepat
c.    Seolah-olah sulit rnuncul tokoh pcrnikir yang berani mcnyusun dan memperjuangkan konsep-konsep yang bertalian dengan pendidikan nasional yang mungkin tidak sejalan dengan keinginan pai-a birokrat yang berkuasa.
Masalah lain yang tertulis dalam Deklarasi Konvensi Nasional Pendidikan 11 Tahun 1992  mengatakan :
1.    Realisasi tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah belum terwujud secara menyeluruh dan bahkan belum dihayati sepenuhnya oleh semua pihak.
2.    Diperlukan political will dan dukungan biaya yang memadai untuk pendidikan daerah  terpencil
3.    Penanaman nilai-nilai budaya maupun agama tidak cukup melalui bidang studi saja.
Salah satu dampak dari hasil pembangunan yang tidak seimbang, adalah :
•    Munculnya kenakalan dan perkelahian anak-anak muda disana sini
•    Maraknya kolusi diberbagai kalangan, ditulis Baharuddin Lopa (1996)
•    Tingginya tingkat korupsi menurut laporan Fortune tentang korupsi di Asia dan survey internasional TIN (Jawa Post 14-8 1985 dan 10-2-1996).

Namun bukan berarti pembangunan Indonesia sudah gagal, masih ada segi-segi keberhasilan pembangunan yang menonjol, seperti :
a.    Kesadaran rnasyarakat tentang pentingnya melaksanakarn ajaran agama sudah meningkat dengan pesat
b.    Persatuan dan kesatuan bangsa masih terkendali

J.    MASA REFORMASI
Pada masa reformasi, sistem pendidikan mulai berubah, yang didahului oleh perubahan Undang-Undang Pendidikan. UU ini menginginkan sistem pendidikan sentralisasi berubah menjadi desentralisasi. Instrumen-instrumen untuk mewujudkan desentralisasi pendidikan yaitu MBS (Manajemen Berbasis Sekolah), Life Skills (lima keterampilan hidup) dan TQM (Total Quality Management). Pemerintah juga menciptakan kelompok-kelompok masyarakat yang independen untuk membantu pendidikan agar mampu mandiri seperti Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah.
Di samping itu pemerintah juga mengubah istilah pendidikan sekolah dan pendidikan luar sekolah menjadi pendidikan jalur formal, nonformal dan informal. Pendidikan nonformal sangat berperan dalam mengembangkan keterampilan warga belajar untuk mampu bekerja di masyarakat sedangkan pendidikan informal di masyarakat dan dalam keluarga sangat berperan dalam mengembangkan afeksi atau kepribadian, sikap,moral dan mental anak-anak.


BAB III
PENUTUP


A.    Kesimpulan
Bagi kaum pendidik, sejarah pendidikan itu mempunyai nilai yang khusus, karena :
1.    Dengan mempelajari sejarah pendidikan kita memperoleh pengertian tentang fungsi pendidikan dalam keseluruhan kebudayaan.
2.    Sejarah pendidikan mengajar kita yang bernilai tinggi dan mana yang tidak, sehingga kita terhindar dari tindakan-tindakan yang salah dan sesat dalam melaksanakan usaha-usaha pendidikan.
3.    Sejarah pendidikan memberi kita pegangan sehingga tidak akan terjadi bahwa kita akan selalu menganggap rendah hal yang sudah lama dan menganggap tinggi hal-hal yang up to date ( modern )
4.    Dengan mempelajari sejarah pendidikan kita akan sadar bahwa pendidikan itu hendaknya disesuaikan atau diselaraskan dengan perubahan-perubahan Ilmu pengetahuan dan teknologi
5.    Sejarah pendidikan menginsafkan kita bahwa pendidikan dan tugas pendidik sangat penting ariinya
6.    Dengan mempelajari sejarah pendidikan kita akan memperoleh contoh-contoh pendidikan yang balk

B.    SARAN

1.    Hendaknya kita jangan sekali-kali melupakan sejarah, khususnya sejarah pendidikan
2.    Untuk penulisan dimasa yang akan datang, hendaknya dimasukkan sejarah pendidikan di dunia

DAFTAR PUSTAKA

1.    Djumhur.I dan Danasuparta. 1976 Sejarah Pendidikan, CV. Ilmu Bandung,
2.    Idris Zahara, 1981. Dasar-Dasar Kependidikan,  Angkasa Raya. Padang
3.    Made Pidata, 1997. Landasan Kependidikan , Rineka Cipta . Jakarta.
4.    Rukiati Enung K dan Hikmawayi henti, 2006. Sejarah Pendidikan  Islam di Indonesia, CV Pustaka Setia, Bandung.
5.    Tim Dosen IKIP Bandung, 1983. Dasar-Dasar Kependidikan, IKIP Bandung
6.    Aan Choto. 2010. Landasan Historis Kependidikan di Indonesia (http://aanchoto.com/category/pendidikan/landasan historis kependidikan di Indonesia:html, di akses 6 maret 2011)
7.    Widyastuti. 2010. Landasan Sejarah Pendidikan. (http://widyastuti2406.wordpress.com/Landasan sejarah Pendidikan:html, diakses 6 maret 2011)

Makalah Akhlak Tasawuf

BAB I
Pendahuluan

1. Latar Belakang

Baik dan buruk merupakan dua istilah yang banyak digunakan untuk menentukan suatu perbuatan yang dilakukan seseorang. Kita
misalnya mengatakan orang itu baik dan orang itu buruk. Masalahnya apakah yang disebut baik dan buruk itu? Dan apa ukuran atau indicator yang dapat digunakan untuk menilai pebuatan itu baik atau buruk? Dan apakah baik dan buruk itu merupakan sesuatu yang mutlak atau relative? Dan bagaimana pandangan islam terhadap baik dan buruk berikut hal-hal yang tekait dengan keduanya itu?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut perlu dicarikan jawabannya sehingga pada saat kita menilai sesuatu itu baik atau buruk memiliki patokan atau indicator yang pasti. Untuk itu pada makalah ini akan dibahas pengertian baik dan buruk, ukuran untuk menilai baik dan buruk, sifat baik dan buruk, serta pandangan islam mengenai baik dan buruk. Pembahasan masalah ini kita masukkan disini karena berkaitan dengan pembahasan tentang akhlak, sehingga dikatakan bahwa ilmu akhlak ini membahas tentang tingkah laku dan perbuatan manusia dan menetapkannya baik atau buruk.

2. Tujuan

    Penulis membuat makalah yang bertujuan untuk menentukan kadar baik buruk seseorang dalam kategori islam yang berpedoman kepada al-qur’an dan Hadist.

3. Permasalahan
   
    Pada makalah ini penulis mengemukan beberapa permasalahan, yaitu:
a.    Apakah pengertian baik dan buruk
b.    Bagaimana penentuan baik dan buruk
c.    Bagaimana sikap baik dan buruk
d.    Bagaimana baik dan buruk dalam ajaran islam


BAB II
ISI DAN PEMBAHASAN


A.    Pengertian baik dan buruk

Dari segi bahasa baik adalah terjemahan dari kata khair dalam bahasa arab, atau good dalam bahasa inggris. Louis Ma’luf dalam kitabnya, Munjid, mengatakan bahwa yang disebut baik adalah sesuatu yang telah mencapai kesempurnaan1. Sementara itu dalam Websters New Twentieth century dictionary, dikatakan bahwa baik adalah suatu yang menimbulkan rasa keharuan dalam kepuasan, kesenangan, persesuaian dan seterusnya2. Selanjutnya yang baik itu juga adalah suatu yang mempunyai nilai kebenaran atau nilai yang diharapkan yang memberikan kepuasan3. Yang baik itu juga dapat diartikan sesuatu yang sesuai dengan keinginan4. Dan disebut baik itu juga dapat pula berarti sesuatu yang mendatangkankan rahmat, memberikan perasaan senang atau bahagia5. Dan selain itu ada pula pendapat yang mengatakan bahwa secara umum bahwa yang disebut baik atau kebaikan adalah sesuatu yang diiginkan, yang diusahakan dan menjadi tujuan manusia. Tingkah laku manusia adalah baik, jika tingkah laku tersebut menuju kesempurnaan manusia. Kebaikan disebut nilai (value), apabila kebaikan itu bagi seseorang menjadi kebaikan yang kongkret6. Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa yang disebut baik adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan yang luhur, bermartabat, menyenangkan dan disukai manusia. Definisi kebaikan tersebut terkesan antroposentris, yakni memusat dan bertolak dari sesuatu yang menguntungkan dan membahagiakan manusia.
Mengetahui sesuatu yang baik sebagaimana yang disebutkan diatas akan mempermudah dalam mengetahui yang buruk. Dalam bahasa arab, istilah buruk dikenal dengan syarr, dan diartikan sebagai sesuatu yang tidak baik, tidak seperti yang seharusnya, tak sempurna dalam kwalitas, dibawah standar, kurang dalam nilai, tak mencukupi, keji, jahat, tidak bermoral, tidak menyenangkan, tidak dapat disetujui, tidak dapat diterima, yang tercela dan perbuatan yang bertentangan dengan norma-norma masyarakat yang berlaku. Dengan demikian yang dikatakan buruk adalah suatu yang dinilai sebaliknya dari yang baik dan tidak disukai kehadirannya.

B.    Penentuan baik dan buruk

1.     Baik buruk menurut aliran adat istiadat (sosialisme)

Menurut aliran ini baik buruk ditentukan berdasarkan adapt istiadat yang berlaku dan dipegang teguh oleh masyarakat. Orang yang mengikuti adapt dipandang baik dan yang menentang dianggap buruk, dan perlu dihukum secara adat.
Ahmad Amin mengatakan bahwa setiap bangsa menpunyai adat dan menganggap baik jika, mengdidik anak-anaknya secara adat istiadat, menanamkan perasaan mereka bahwa adat akan membawa kepada kesucian sehingga apabila seseorang menyalahi adat sangat dicela dan dianggap keluar dari golongan bangsanya . 
Didalam masyarakat kita jumpai adat istiadat ang berkenaan dengan cara berpakaian, makan, minum, cakap-cakap, dan sebagainya. Orang yang mengikuti cara yang demikian itulah yang dianggap baik. Kelompok yang menilai baik dan buruk berdasarkan adat istiadat ini dalam tinjauan filsafat dikenal dengan istilah aliran sosialisme.

2.     Baik buruk menurut aliran Hedonisme

Aliran Hedonisme adalah aliran filsafat yang terhitung tua karena berakar pada filsafat yunani, khususnya pemikiran filsafat Epicurus ( 341-270 SM), yang selanjutnya dikembangkan oleh cyrenics dan belakangan ditumbuh kembangkan oleh Freud .
Paham ini menyatakan perbuatan baik adalah perbuatan yang banyak mendatangkan kenikmatan, kelezatan dan kepuasan nafsu biologis. Epicurus sebagai peletak dasar paham ini mengatakan bahwa kebahagian atau kelezatan itu adalah tujuan manusia. Tidak ada kebaikan dalam hidup selain kelezatan dan tidak ada keburukan kecuali penderitaan.
Hedonisme model pertama yang individualistik lebih banyak mewarnai masyarakat barat yang bercorak liberal dan kapitalis, sementara hedonisme model kedua yang sosialistik banyak mewarnai masyarakat eropa yang komunis.

3.     Baik dan buruk menurut paham intuisisme (humanisme)

Intuisi adalah kekuatan batin yang dapat menentukan sesuatu sebagai baik atau buruk. Dengan sekilas tampa melihat buah atau akibatnya9. Kekuatan batin atau yang disebut juga sebagai kata hati adalah merupakan potensi rohaniah yang secara fitrah telah ada pada diri setiap orang. Paham ini berpendapat bahwa pada setiap manusia mempunyai kekuatan instinct batin yang dapat membedakan baik dan buruk dengan sekilas pandang10. Kekuatan batin ini terkadang berbeda refleksinya, karena pengaruh masa dan lingkungan, akan tetapi pada dasarnya ia tetap sama dan berakar pada tubuh maanusia. Apabila ia melihat suatu perbuatan, ia mendapat semacam ilham yang dapat memberitahu nilai perbuatan itu, lalu menetapkan hukum baik dan buruknya. Oleh karna itu kebanyakan manusia sepakat mengenai keutamaan seperti benar, dermawan, berani dan mereka juga sepakat menilai buruk terhadap suatu perbuatan yang salah, kikir dan pengecut.
Poedjawijatna mengatakan bahwa menurut aliran ini yang baik adalah yang sesuai dengan kodrat manusia, yaitu kemanusiaannya cenderung kepada kebaikan. Penentuan terhadap baik buruknya tindakan yang kongkret adalah perbuatan yang sesuai dengan kata hati orang yang bertindak. Dengan demikian ukuran baik buruk suatu perbuatan menurut paham ini adalah tindakan yang sesuai dengan derajat manusia, dan tidak menentang atau mengurangi keputusan hati . Secara batin setiap orang pasti tidak akan dapat membohongi kata hatinya.jika suatu ketika seseorang yang mengatakan sesuatu yang bukan sebenarnya, hal yang demikian hanya dapat dilakukan atau ditrima oleh ucapannya, tetapi kata hatinya tetap tidak mengakui kebohongan itu.

4.     Baik dan buruk menurut paham Utilitarianisme
Secara harfiah berarti berguna. Menurut paham ini bahwa yang baik adalah yang berguna.Jika ini berlaku bagi perorangan,disebut individual,dan jika berlaku bagi masyarakat dan Negara disebut social.
Pada masa sekarang ini,kemajuan dibidang teknik cukup meningkat,dan kegunaanlah yang menentukan segala-galanya.Namun demikian paham ini cenderung ektrim dan melihatkegunaan hanya dari sudut pandang materialistik.Kegunn bisa diterima jika hal-hal yang digunakan tidak menimbulkan kerugian bagi orang lain.Nabi misalnya menilai orang yang baik adalah memberi manfaat bagi yang lainnya.( HR.Bukhari).

5. Baik buruk menurut paham Religiosisme.
    Menurut paham ini yang dianggap baik adalah perbuatan yang sesuai dengan kehendak tuhan,sedangkan perbuatan buruk adalah sebaliknaya.Dalam paham ini keyakianan teologis,yakni keimanan kepada tuhan memegang peranan penting,karna tidak mungkin orang mau babuat sesui dengan kehendak tuhan jika bersangkutan tidak beriman kepadaNya.
    Diketahui didunia ini terdapat bermacam-macam agama ,dan masing-masimg menentuken bik dan buruk menurut ukurannya masing-masing.Agama Hindu,Budha,Yahudi,Kristen dan Islam misalnya ,masing-masing memiliki tolak ukur tentang baik dan buruk yang dengan yang lainnya berbeda-beda.

C. Sifat Dari Baik Dan Buruk

    Sifat dan corak baik buruk yang didasarkan pada pandangan filsafat adalah sesuai dengan sifat dari filsafat itu sendiri,yakni berubah dan tidan universal.Nilai baik dan buruk bersifat relative.
Sifat baik dan buruk berguna sesui zamannya ,dan ini dapat dimanfaatkan untuk menjabarkan ketentuan baik dan burukyang terdapat dalam ajaranAhlak yang besumber dari ajaran islam.

D. Baik Buruk Menurut Ajaran Islam.

    Ajaran islam adalah ajaran yang bersumberkan wahyu Allah S.W.T.,menurut ajran agama islam penentuan baiak dan buruk harus didasarkan pada Al-quran dan Hadist.Didalam Al-quran maupun hadist banyak dijumpai istilah yang mengcu pada yang baik dan yang buruk. Diantara istilah yang mengacu pada hal yang baik misalnya al-hasanah,thayyibah,khair,mahmudah ,karimah dan al-birr.

1. Al-hasanah
    Al-Raghib Asfahani mengemukakan bahwa sesuatu yang digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang disukai atau yang dipandang baik adalah hasanah.Hasanah  dibagi menjadi tiga ,pertama hasnah dari segi akal,kedua hasnah dari segi nafsu/keinginan dan hasanah dari panca indra .Lawan dari hasanah adalah Al-sayyiah. Yang termasuk hasanah mislnya keuntungan,kelapangan rezeki dan kemenangan.

2. Al-thayyibah
    Kata Al-thayyibah khusus digunakan untuk menggambarkan sesuatuyang memberikan kelezatan kepada panca indra dan jiwa,seperti makanan ,pakaian,dan tempat tinggal dan sebagainya .Lawan dari Al-thayyibah adalah Al-qhabibah yang artinya buruk.

3. Al-khair
    Kata Al-khair digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang baikoleh seluruh umat manusia,seperti berakal,adil,keutamaan dan segala sesuatu yang ber manfaat.Lawannya adalah Al-syarr .

4.Karimah
    Kata Al-karimah digunakan untuk menunjukkan pada perbuatan dan ahlak yang terpuji yang ditampakkan pada kehidupan sehari-hari .Selanjutnya kata karimah biassa digunakan untuk menunjukkan perbuatan yang terpuji yang sekalanya besar,seperti menafkahkan hartanya dijalan Allah dan berbuat baik pada orang tua.

5. Al-mahmudah
    Kata ini digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang utamasebagai akibat dari melakukan sesuatu yang disukai Allah SWT . Denga demikian kata Al-mahmudah lebih menunjukkan pada kebaikan yang bersifat batin dan spiritual.

6.Al-birr
    Kata Al-birr digunakan untuk menunjukkan pad upaya memperluas melakukan perbuatan yang baik.Kata tesebut terkadang digunakan sebagai sifat Allah dan terkadang juga untuk manusia.Jika kata tersebut diguanakan untuk sifat Allah ,maka maksudnya adalah bahwa Allah memberikan pahala yang besar,dan jika digunakan untuk manusia , maka yang dimaksud adalah ketaatannya .


BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN


1.    KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas dapat kita tarik beberapa kesimpulan yang mendasari penulisan ini, diantaranya:
a.    Dari segi bahasa baik adalah terjemahan dari kata khair dalam bahasa arab, atau good dalam bahasa inggris. Louis Ma’luf dalam kitabnya, Munjid, mengatakan bahwa yang disebut baik adalah sesuatu yang telah mencapai kesempurnaan.
b.    Penetuan baik dan buruk dapat dilihat dari beberapa aspek, diantaranya:
Baik buruk menurut aliran adat istiadat (sosialisme),Baik buruk menurut aliran Hedonisme,Baik dan buruk menurut paham intuisisme (humanisme), Baik dan buruk menurut paham Utilitarianisme,Baik buruk menurut paham Religiosisme.
c.    Ada baik dan buruk yang dibahas dalam ajaran islam,diantaranya: Al-hasanah, Al-thayyibah, Al-khair, Karimah, Al-mahmudah, Al-birr.

2.    SARAN


Daftar Pustaka

Amin, Ahmad, Etika (ilmu ahlak),(ter.) Farid Ma’ruf,dari judul asli al- Akhlaq, (Jakarta: Bulan Bintang, 1983),cet.III.
Asfahani,al-Raghib,Mu’jam Mufradat Alfadz Al-Qur’an,(Beirut:Dar al-Fikr,t,t.).
Charis Zubair, Ahmad, Kuliah Etika, (Jakarta: Rajawali Pers, 1990)cet II.
Nata, Abuddin, MA,,Dr.H, Aklak Tasawuf, JAKARTA, PT Raja Grafindo Jakarta, 2002